SEKOLAH KERJA NYATA.. Pengabdian Desa Terpencil

0
263

Cupunagara, 16 Agustus 2015

Oleh: Tsabit Syauqi

Hari Pertama…
Liburan panjang sudah berakhir.. dan sekarang saatnya kembali menempa ilmu di kampus peradaban… setelah seminggu kami menduduki bangku kelas 11… kami langsung melaksanakan program pengabdian pada masyarakat… yaitu SKN… Sekolah Kerja Nyata.. program ini mirip dengan KKN-nya mahasiswa.

Selepas apel pelepasan yg di buka langsung oleh kepala sekolah, kami berangkat dari Assyifa tepat pukul 8.15 pagi, ada 3 kendaraan yang membawa https://bestpaperwrirters.net https://bestpaperwrirters.net https://bestpaperwrirters.net kami ke sana.. satu untuk logistik, dan dua untuk membawa kami ke sana… ke sebuah desa terpencil di Subang… Cupunagara.
kebetulan, Aku bersama 4 orang temanku berada di mobil logistik.. untuk menjaga barang-barang yang ada di mobil itu..
Percaya atau tidak… akses untuk menuju ke Desa Cupunagara itu sangat sulit.. tapi bukan berarti sulit karena harus menembus hutan, melainkan sulit karena akses jalan yang menanjak, juga tidak ber aspal.. sekalipun ada yang beraspal, jalan itu hanya beberapa meter saja.. sisanya kembali jalan berbatu.

Sekitar 2 jam kami menempuh perjalanan dari asyifa… merasa lelah, tapi.. menurutku semua itu terbayar oleh pemandangan yang indah di perjalanan, tak terbayang bagaimana Allah menghamparkan permadani hijau,dan barisan bukit… serta pohon-pohon yang menjulang tinggi… subhanallah… kami pun tiba dan melaksanakan shalat dzuhur..

“ya,dengarkan.. ini daftar orangtua asuh kalian nanti.. silahkan cari rumahnya, Tanya-tanya aja sama warga.” Ujar Ust.Abadi.. beliau adalah ketua pelaksana di acara SKN ini… kurang lebih hingga ashar kami mencari alamat orangtua asuh kami… setiap dari kami mendapatkan orangtua asuh yang tinggal dirumah sederhana… dan rata-rata bekerja sebagai petani dan penyadap pohon aren…

Kami menjalani hari pertama kami dengan penuh briefing dan koordinasi untuk hari-hari kami di Cupunagara.. perjalanan hari pertama..

Hari Kedua…
Luarbiasa dingin! Itu kesan pertama yang Aku rasakan ketika mengambil air wudhu untuk shalat subuh… dinginnya terasa menusuk-nusuk tulang.. secara teknis desa ini memang terletak digunung… dan airnya pun langsung dari mata air di gunung… katanya air ini belum pernah habis dan tetap jernih dari dulu sejak jaman penjajahan sampai sekarang.. mengingat desa ini juga dulunya tempat ekspansi dan tempat jarahan penjajah jepang.. untuk mengambil rempah-rempah dan teh.

Suguhan yang ramah dari rakyat sunda… pagi itu ditempat orangtua asuhku.. aku dan 2 teman satu rumahku disediakan “ulen” atau yang biasa disebut uli… setelah menyantap sarapan khas pedesaan… aku dan kawan ku diajak untuk ke “serang” aku dan kawanku heran.. beneran nih mau ke serang? Jauh amat… dan ternyata serang yang dimaksud adalah bukan serang ibukota provinsi banten… melainkan serang.. bahasa sunda… yang berarti sawah.

Taukah kalian berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sawah tersebut… 1,5 jam dengan berjalan kaki! Luar buiasa jauh.. dan kalian tau… Ibu asuhku ini biasa melakukan aktivitasnya sendirian setiap hari.. mengingat bahwa bapa asuhku seorang pekerja bangungan di proyek-proyek luar kota,,, melewati hutan… jalan batu dan pematang sawah lainnnya… luarbiasa jalan yang harus ditempuh… dengan hasil panen yang tak seberapa…

Tepat 10 menit sebelum dzuhur aku dan kawanku kembali ke rumah… sungguh pengalaman yang luarbiasa…

Besok.. saatnya ganti profesi.. menjadi.. pengajar. Karena aku dan kawanku ditempatkan di divisi pendidikan… jadi besok aku dan temanku akan mengunjungi SDN Ciwangun…

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of