Menjadi Pribadi yang Menginspirasi

Menjadi Pribadi yang Menginspirasi

1617429_582703798483372_50808088_o-1100x619

Tentang mereka yang menginspirasi.

Mungkin mereka adalah orang yang dekat dengan kita, sering berinteraksi bersama, kemudian hadirnya membuat kita merasa nyaman, menimbulkan decak kagum, hingga kita pun membayangkan bisa seperti dirinya.

Bisa jadi mereka hanyalah seseorang yang sekali waktu kita bertemu dengannya, sekali waktu membaca tulisannya, atau sesekali saja mendengar ucapnya, lalu lakunya meninggalkan kesan yang membuat kita berbinar terilhami suatu ide cemerlang untuk kita jejakkan menjadi sebuah karya.

Atau, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka yang menginspirasi adalah seseorang yang sama sekali tidak pernah kita bertemu dengannya, tidak pernah melihat wajahnya, tidak pernah mendengar suaranya, namun cerita tentangnya begitu mengagumkan dan begitu menginspirasi kita untuk melakukan hal yang sama dengannya, mengikuti jejaknya, hingga mencintai apa yang mereka cintai, dan membenci apa yang mereka benci.

Siapapun mereka, berusahalah mengingat “apa yang membuat mereka menjadi begitu menginspirasi?”

Boleh jadi ia adalah orang yang kaya, atau sangat kaya. Apakah kekayaannya yang membuat kita berdecak kagum dan menginspirasi? ataukah kedermawanannya?

Mungkin saja ia  adalah orang yang pintar, cerdas, banyak akal. Apakah kecerdasannya yang membuat kita terkagum-kagum dan merasa terilhami sementara ia tak pernah membagi ilmunya pada orang yang membutuhkan?

Atau tidak menutup kemungkinan ia yang menginspirasi tidak mempunyai harta benda yang banyak untuk dibagi, tidak pintar, dan tidak memiliki kelebihan apapun, tetapi hatinya bersih, senyumnya begitu tulus, dan dalam kondisi yang berkekurangan ia tetap bisa menginspirasi melalui keindahan pekertinya.

Pada akhirnya, kita pun menyadari bahwa menginspirasi itu bukan tentang seberapa banyak apa yang kita miliki. Menginpirasi adalah tentang sebanyak apa yang mampu kita bagi untuk kebaikan orang lain.

Maka, seseorang mampu menjadi inspirasi bagi oranglain bukan karna ketidakbisaannya, bukan karena ketidakkayaannya, bukan karena ketidakpintarannya dalam segala hal.

Mereka menginspirasi karena keindahan akhlak yang menghiasi hidupnya bagaimanapun orang melihat kelebihan atau kelemahan mereka.

Benarlah sabda Rasulullah berikut,

“Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Tiada sesuatu yang lebih bisa memberatkan timbangan ( kebaikan ) orang mukmin pada hari kiamat daripada akhlaq yang baik. Sesungguhnya Allah membenci orang yang berkata kotor dan hina “. ( HR At-Tirmidzi )

Maka, apapun kelebihan dan kekurangan kita, apapun yang orang lihat tentang diri kita, inilah saatnya untuk belajar menjadi pribadi yang menginspirasi 🙂

#HaveFaith

By Aghniya Humaira (Alumni. Angkatan 1)

Kita dan Self Fulfilling Prophecy

Kita dan Self Fulfilling Prophecy

Pernah bertemu kembali dengan teman lama yang sekarang telah jauh berubah dari orang yang pernah kita kenal?

Ada satu faktor penting yang perlu kita perhatikan dalam proses perubahan seseorang atau suatu kelompok tertentu. Ialah konsep yang telah lama masyhur di dunia pendidikan : “Self Fulfilling Prophecy”. Konsep yang perlu dikuasai untuk pengajar pada muridnya, psikolog pada kliennya, orangtua pada anaknya, direktur pada bawahannya, dokter pada pasiennya, pemimpin pada orang-orang yang ia pimpin, dan interaksi-interaksi serupa.

Saya dulu bersekolah di SMP swasta berasrama yang baru membuka angkatan pertamanya, di mana kami masih menjadi anak tunggal, guru-guru fresh graduate, lapangan sekolah bertanah kering—yang jika angin datang, kami harus buru-buru mencari tameng agar tidak simbah oleh debu—lingkungan sekolah dan asrama masih sangat sepi, sebab kamilah angkatan pertama, dan sistem pendidikan yang masih sangat fleksibel. Tetapi fase itulah yang amat sangat manis ketika saya kenang, di mana guru-guru muda saat itu menumbuhkan sikap jujur pada anak muridnya. Kejujuran adalah segalanya, pernah ada guru yang salah memberi nilai (poinnya berlebih), kemudian salah satu anak muridnya datang ke meja guru lantas mengadu “Pak, nilai saya kelebihan”. Sejak peristiwa itu, puisi-puisi tentang berharganya nilai kejujuran dipajang di mading-mading sekolah dan ungkapan-ungkapan bangga atas sikap jujur murid-murid menjadi pembicaraan hangat.

Guru-guru amat percaya bahwa murid-muridnya akan memegang teguh kejujuran, bahkan jikapun ujian tidak diawasi, tidak ada yang berani bertanya atau memberitahu jawaban, atau jika ujian dibawa ke asrama dan peraturannya tidak boleh membuka catatan pelajaran, maka tidak akan ada yang berani membuka buku catatan sama sekali. Bagi kami, mencontek adalah aib dan menodai kepercayaan guru-guru.

Menarik jika direnungi, ternyata saya baru pahami konsep yang diterapkan guru-guru kami saat itu, adalah ekspektasi positif bahwa kami akan melakukan sesuatu yang sesuai dengan label yang guru kami berikan. Yaitu penerapan sikap jujur. Sebab mereka telah yakin bahwa kami akan berlaku jujur, maka sikap mereka pada anak didiknya, respon mereka atas tingkah kami selalu menunjukkan bahwa mereka percaya kami akan memegang teguh kejujuran. Upaya murid-murid untuk mempertahankan sikap jujur merupakan ‘fulfill‘ dari harapan para guru.

Semoga konsep ini menjadi cukup jelas. Penting jadinya keyakinan positif kita pada seseorang atas cita-citanya. Sebab jika kita telah memiliki harapan positif bahwa orang tersebut mampu melakukan sesuatu dengan baik atau sesuai harapan kita, maka seluruh indra kita akan mensinergikan gerak untuk mensukseskan apa yang telah kita yakini, untuk merespon tindakan orang tersebut sesuai dengan harapan kita. Besar kemungkinan orang tersebut membalas harapan yang (lebih sering) tidak terkatakan itu sesuai dengan ekspektasi yang diberi, sikapnya, kebiasaanya, cara-caranya jadi berubah mengikuti ekspektasi kita.

Jika guru bertemu murid yang—semua guru telah angkat tangan atas tingkah dan capaian akademiknya yang memprihatinkan, maka kita akan datang sebagai guru yang percaya bahwa tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanyalah murid yang belum bertemu guru dan metode yang tepat. Jika konselor bertemu dengan klien yang telah amat putus asa atas hidupnya, maka kita akan datang sebagai teman cerita yang yakin bahwa selalu ada harapan untuk tiap jiwa yang punya luka menganga. Jika semua orang menuding negeri ini telah sukar disembuhkan sebab carut-marutnya keadaan, maka kita adalah penambah jumlah barisan orang-orang yang selalu percaya bahwa tetap ada orang yang peduli memikirkan perbaikan dan bergerak untuk perubahan-perubahan.

Bahkan Allah memerintahkan untuk kita selalu menaruh harap pada-Nya. Tiap amal yang terkerja, tiada daya tanpa pertolongan-Nya. Tiap ketertampakan kebaikan kita adalah kebaikan-Nya menutupi aib-aib kita. Tiap dosa yang makin bertambah tiap harinya, keperluan kita adalah menaruh harapan yang penuh bahwa Allah akan mengampuninya. Jika telah yakin dosa kita teramat banyak dan nyatanya ampunan-Nya jauh lebih melimpah, maka segala respon kita, sikap kita atas apa yang Allah beri akan mengarahkan kita pada keterampunan dosa dan keluasan rahmat-Nya. Karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya terhadap-Nya.

Harapan. Menjadi harta berharga di setiap aktivitas kita. Dalam hidup yang erat kaitannya dengan mengajak orang lain pada kebaikan, perlu kita yakin bahwa selalu ada harapan untuk seburuk apapun perilaku berubah menjadi sebaik-baik pekerti. Sebagaimana Umar bin Khattab ra atau Sayyid Quthb. Mereka berubah haluan secara ekstrem sebab ada orang yang masih yakin bahwa kelak mereka akan menjadi orang baik.

Konsep inilah yang menjelaskan pertanyaan intro di awal tulisan. Mungkin saja orang yang dulu kita kenal tidak begitu baik, kini sedang berada di titik yang jauh melampaui kita, terkarena ia bertemu dengan orang yang menaruh harapan positif atas masa depannya, dan sikap orang itu mengarahkannya pada perubahan-perubahan ke arah lebih baik atau ia sendiri yang mampu merespon dengan baik setiap situasi yang ia hadapi.

Wallahu’alam bishawab

Fatahillah, 24/11/15

Kritik, saran, & kontribusi cerita : [email protected]

By Hana Izzatul Jannah (Alumni. Angkatan 1)

Kita Berhak Sukses

Kita Berhak Sukses

Oleh : Muthmainnah Alkhoiriyah

Berhakkah punya cita2 tinggi??

Semua orang pasti punya cita-cita. Kita mengingat di saat kita masih kecil berumur 5 tahunan ditanya “apa cita-citamu?”, pasti yang kita jawab “aku mau  jadi pilot”, “aku mau jadi dokter”, “aku mau jadi guru”dll. Kebanyakan pasti menjawab seperti itu, karena yang kita tau saat itu https://essayservise.com https://essayservise.com https://essayservise.com mungkin hanya itu.

Kita Juga Garuda Muda

Kita Juga Garuda Muda

(Oleh : Mushababe)

Garuda Muda Pastikan Diri Ke Myanmar!” “Garuda Muda
The Winning Team” Itulah beberapa Headline yang menghiasi halaman depan
situs bola terkenal di Indonesia. Sekarang, Semua mata tertuju kepada
mereka. Setelah menjadi Juara pada turnamen AFF U-19 yang di adakan di
Sidoarjo. Kembali, Garuda Muda mempersembahkan sebuah harapan kepada seluruh pendukungnya di tanah air.

https://get-essays.net https://get-essays.net https://get-essays.net
(more…)

Begin Everything With Bismillah

Begin Everything With Bismillah

Oleh: Aghniya Humaira

Mungkin kita pernah
mengeluh lelah ketika belajar, berat ketika harus berkorban lebih banyak untuk
suatu hal yang bukan kepentingan diri kita, tertekan ketika menerima begitu
banyak cobaan yang harus dihadapi, dan merasa iri dengan kesenangan orang lain yang
tidak kita dapatkan. Mengapa rasa lelah, berat, dan tertekan menjalani hidup
itu ada? Mungkin https://paper-writers.net https://paper-writers.net https://paper-writers.net karena kita lupa untuk melibatkan Allah dalam setiap aktivitas
yang kita lakukan.
 
Rasulullah
mengajarkan kita untuk senantiasa membaca
“Bismillahirrahmaanirrahiim” sebelum melakukan sesuatu. Mengapa?
Sebab kita adalah makhluk yang serba terbatas. Usia kita terbatas, pengetahuan
kita terbatas, kemampuan kita juga terbatas. Sebutlah mata kita sehat dan dapat
melihat ciptaan-Nya dengan jelas. Keterbatasannya dapat kita rasakan ketika
kita sadar bahwa yang dapat kita lihat hanyalah benda-benda yang ada di sekitar
kita. Bahkan benda di sekitar kita sendiri pun mungkin tidak bisa kita lihat
ketika tertutup benda yang lain, atau ukurannya yang sangat kecil, apalagi
untuk melihat hal-hal yang ghaib, mata kita tidak kuasa untuk melihatnya.
 
Begitupun dengan
kehidupan. Hidup menuntut kita untuk beribadah. Menuntut ilmu, berbakti pada
orangtua, berbuat baik pada sesama, peduli akan lingkungan, dan tetap menjaga
hubungan dengan Allah lewat Qiyamullail, tilawah, shaum, dan banyak hal yang
harus kita kerjakan ketika hidup. Pantaslah Hasan Al Banna pernah berkata bahwa
kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia.
 
Maka, keterlibatan
Allah menjadi sangat penting dalam setiap hal yang kita hadapi. Entah itu
terlihat  senang, sedih, berat, ringan,
mudah, sulit, apapun itu. Dengan mengucapkan
“Bismillahirrahmaanirrahim” yang artinya “Dengan menyebut nama
Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”, menunjukkan bahwa kita
telah melibatkan Allah dalam urusan kita. Kita pinjam kekuatan Allah yang tidak
terbatas untuk keselamatan dan kesuksesan kita.
 
Sebelum naik
angkutan umum, ucapkan basmalah. Sama artinya kita memohon perlindungan Allah
atas apapun yang mungkin terjadi di dalam angkutan umum. Pun jika terjadi
sesuatu, atas kehendak Allah. Jika akhir hidup kita berakhir disana, juga atas
nama Allah.
 
Sebelum belajar,
ucapkan basmalah. Masuk atau tidaknya ilmu adalah atas kehendak Allah. Untuk
itu kita pinjam kekuatan Allah agar ilmu yang kita pelajari dapat kita pahami.
Kalaupun ternyata pada akhirnya kita belum paham, maka tidak perlu khawatir
karena terjadinya atas nama Allah.
 
Sebelum bersedekah,
ucapkan basmalah. Barangkali ada terselip riya dalam hati.
 
Sebelum berbicara,
sebelum memakai sesuatu, sebelum menjawab soal ujian, sebelum mengerjakan tugas, sebelum mengajar, sebelum
membeli sesuatu, sebelum memilih sesuatu, sebelum membuka internet, sebelum
masuk ke sebuah ruangan, sebelum menyalakan lampu, sebelum minum, sebelum memutuskan
sesuatu, sebelum bepergian, sebelum tidur, dan sebelum sebelum yang lain agar
Allah terlibat dalam kegiatan setelah kata sebelum tadi.
 
Waktu kita memang
terbatas, pengetahuan dan kemampuan kita pun terbatas. Bisa jadi kita lelah,
tugas menumpuk, amanah menggunung, belum lagi urusan pribadi kita tidak
terselesaikan.  Namun ketika Allah kita
libatkan, ketika kekuatan yang kita pinjam adalah kekuatan Allah yang segala
maha dan tidak terbatas, maka tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk
memampukan diri kita. Dengan izin dan kuasa-Nya, Allah akan meminjamkan
kekuatan-Nya lewat tangan kita, kaki kita, hati kita, pikiran kita, atau
mungkin lewat perantara orang lain yang tidak kita sangka sebelumnya. Oleh
karenanya, mulailah segala sesuatu dengan bismillah. 🙂
Nilai Sebuah Kejujuran

Nilai Sebuah Kejujuran

Oleh: Aghniya Humaira

Lelaki shalih itu ternyata bernama Arif Sardjono. Seorang ayah dari enam anak dan suami dari seorang istri yang juga shalihah. Subhanallah, begitu kuat keimanan mereka pada Allah.

Mungkin kita pernah mendengar kisah tentang seorang lelaki yang ditugaskan untuk bekerja di sebuah kantor perpajakan di bagian pemeriksa keuangan. Sebagaimana pemahaman masyarakat pada umumnya, seringkali melihat “orang pajak” adalah orang https://go-essay.com https://go-essay.com https://go-essay.com kaya, yang berkelimpahan hartanya. Tapi hidup lelaki ini tidak demikian, meski tempatnya bekerja sangat berpotensi untuk mendapatkan itu, karena ia memilih untuk hidup dalam kejujuran.
Kisahnya ia mempunyai teman kantor sekaligus atasan yang begitu dekat dengannya dan anak-anaknya. Setiap pekan mereka berdua memancing bersama, dan setiap kali itu pula temannya ini memberikan amplop untuk anak-anaknya. Hingga suatu ketika ia mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu dia menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Atasannya berpendapat bahwa jika semua penyimpangan ini diungkapkan maka perusahaan ini akan bangkrut dan akan banyak pegawai yang di PHK. Maka, baginya menutupi kebenaran adalah sebuah keputusan yang terbaik. Diantara semua orang kantor yang ikut andil dalam masalah ini, Pak Ariflah satu-satunya yang menolak keputusan ini. Hingga akhirnya atasan ini berkata, “Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik”. Pak Arif tentu saja terkaget ketika ternyata diberi tahu bahwa amplop yang setiap pekan selama dua tahun ia terima dari sahabatnya itu ternyata adalah berasal dari uang suap. Bayangkan, dua tahun dalam setiap pekan itu jika rutin artinya 96 kali menerima amplop. Ia lantas pulang dalam keadaan terpukul. Ia menangis dan menceritakan semuanya pada istrinya. Ketika mendengar, lantas istrinya pun bertahmid, karena ternyata amplop-amplop itu masih ia simpan rapi dan belum pernah ia buka satupun, apalagi dipakai, karena ia tidak tahu apa status uang itu. Segera Pak Arif mengambil semuanya dan ia lempar amplop-amplop itu di hadapan kepala kantor dan kepala seksi hingga bertaburan di lantai. Mereka tidak bisa berbicara apapun karena fakta obyektif, bahwa Pak Arif tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan.
Berita seperti ini memang tidak pernah dimediakan dengan begitu gencar seperti dengungan banyak pejabat yang melakukan tindakan korupsi. Barangkali kisah Pak Arif itu hanya salah satu contoh saja diantara sekian orang yang masih mempertahankan kejujuran meski di tengah lingkungan yang tidak mendukungnya untuk jujur.
Boleh jadi kita begitu emosi menyaksikan ketidakadilan merajalela.
Mungkin kita gusar mendengar kabar koruptor memakan uang rakyat yang pastinya tidak dilakukan oleh para pengemis jalanan.
Mungkin juga kita gelisah menyadari bahwa betapa tidak habis-habisnya masalah kemiskinan yang terjadi di negara kita.
Bahkan tindakan korupsi seolah menjadi hal yang biasa.
Bahkan orang jujurlah yang tersingkir.
Mungkin kita telah tiba pada akhir masa,
Ya, akhir masa dimana orang-orang beriman seperti terasing, jumlahnya tidak banyak, bahkan hampir tak terlihat.
Tapi saudaraku, coba tengoklah diri kita
Apakah kita termasuk golongan yang juga mempertahankan kejujuran itu?
Marilah kita kembali pada Allah
Marilah kita rasakan pengawasan dari Allah
Bukankah harta benda, popularitas, riuh tepuk tangan, apalagi sekedar ucapan terimakasih dari manusia itu tidak bernilai apapun dibandingkan dengan syurga-Nya?
Mari kita mulai dari hal-hal yang bisa kita lakukan
Jika kita adalah seorang pelajar, ketahuilah bahwa Allah melihat kesungguhan kita dalam belajar, tidak perlu mencontek
Meski orangtua, guru atau bahkan kepala sekolah langsung yang memerintahkan untuk melihat kunci jawaban ketika ujian nasional tiba misalnya..
Apakah perintah seorang manusia untuk berbuat kecurangan itu lebih didengar daripada seruan Allah untuk berlaku jujur?
Marilah kita kembali pada Allah.
Meski sulit membayangkan kejujuran di negeri ini akan terwujud, tapi ini adalah suatu hal yang mungkin.

Untuk guru-guru di kampus peradaban, terimakasih karena kau telah mengajarkan kami kejujuran… :’)