Tiga Ujian Bagi Kemdikbud

Tiga Ujian Bagi Kemdikbud

Tiga ujian nasional untuk tiga jenjang pendidikan, yaitu SD, SMP dan SMA baru saja usai. Para siswa dan orang tua pun tinggal menunggu hasilnya yang akan disampaikan beberapa waktu lagi. Dengan harap-harap cemas, mereka pun setia menanti kabar dari pihak sekolah, meskipun tak sedikit juga yang langsung meluapkan kegembiraan karena “merasa” yakin akan lulus.  Disisi lain tak hanya siswa yang melaksanakan ujian, namun khusus untuk tahun ini tiga ujian juga harus dijalani oleh pihak Kemdikibud.

https://buypresentation.com https://buypresentation.com https://buypresentation.com
Ujian pertama yang harus dijalani oleh Kemdikbud yaitu tentang carut marutnya pelaksanaan ujian nasional. Ditengah banyaknya persoalan yang terjadi selama pelaksanaan UN seperti kasus kebocoran soal, mencontek massal, kualitas kertas soal yang buruk hingga penundaan pelaksanaan UN yang harus dialami oleh siswa SMA di sebelas propinsi, Kemdikbud harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa mempertahankan UN adalah kebijakan yang tepat. Dalam hal ini Kemdikbud dituntut untuk membuktikan bahwa UN dapat meningkatkan kualitas pendidikan sembari mampu memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi selama pelaksanaan dan menjamin kesalahan serupa tidak terulang tahun depan.

Ujian kedua adalah tentang rencana pemberlakukan kurikulum baru yang akan diterapkan mulai tahun ini. Pada ujian yang kedua ini Kemdikbud harus mampu menjelaskan kepada masyarakat khususnya kalangan pendidik bahwa perubahan kurikulum adalah suatu keniscayaan. Dalam hal ini Kemdikbud dituntut untuk dapat meyakinkan masyarakat bahwa permasalahan pendidikan benar-benar terletak pada kurikulum yang berlaku disemua jenjang pendidikan dan bukannya pada faktor guru maupun sara pendidikan. Padahal seyogyanya, berhasil atau tidaknya pelaksanaan kurikulum pendidikan akan sangat ditentukan oleh kualitas pendidik dan sarana pembelajaran. Oleh karena itu hendaknya pihak Kemdikbud mampu menyampaikan laporan evaluasinya secara objektif dan menyeluruh kepada masyarakat.

Ujian ketiga yang harus dijalani oleh Kemdikbud adalah tentang penggunaan data Dapodik ( Data Pokok Pendidikan ) yang akan sangat bermanfaat dalam membangun sebuah database pendidikan sebagai sumber informasi tentang kondisi objektif pendidik dan peserta didik. Dalam hal ini Kemdikbud  harus mampu membuktikan bahwa penggunaan Dapodik ini tidak bertujuan untuk “menjegal” guru-guru untuk mencairkan tunjangan profesi karena realita dilapangan menunjukkan tidak sedikit guru yang harus gigit jari karena tidak dapat mencairkan tunjangan profesinya hanya karena belum mengisi atau melengkapi data dalam Dapodik.

Ketiga ujian diatas tentunya harus mampu dijalani oleh Kemdikbud dengan baik. Dalam hal ini Kemdikbud harus mampu membuktikan kepada masyarakat bahwa ketiga program yang dilaksanakan diatas benar-benar bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan ditanah air, dan bukan sebaliknya. Dengan begitu, penolakan yang selama ini disuarakan oleh berbagai pihak lambat laun akan berkurang, bahkan mungkin berbalik menjadi mendukung program-program pemerintah. Tanpa dukungan masyarakat, khususnya kalangan pendidikan, semua program yang dilaksanakan oleh pemerintah mustahil dapat terlaksana dengan baik.

 

Sumber :  www.pancingkehidupan.com

Menciptakan Sekolah Ramah Anak

Menciptakan Sekolah Ramah Anak

KELASBelum selesai kasus yang menimpa salah seorang siwi SMAN 22 Jakarta yang menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum wakil kepala sekolah tersebut, kini wajah dunia pendidikan kembali tercoreng dengan ulah oknum https://termpaper4you.com https://termpaper4you.com https://termpaper4you.com kepala sekolah SMKN 4 Bandung yang melakukan perbuatan yang sama kepada muridnya. Kejadian yang menimpa siswi sekolah tersebut tentu saja mengakibatkan trauma yang mendalam dalam diri para korban. Kepala sekolah yang sejatinya dianggap sebagai panutan di sekolah malah mencelakakan anak didiknya dengan merusak masa depan mereka.

Tak ayal, hujatan dan makian pun datang dari masyarakat, khususnya dari para orang tua yang anaknya menjadi korban. Kejadian ini tentu saja meluluhlantahkan kepercayaan yang diberikan oleh orang tua kepada pihak sekolah. Parahnya lagi, pihak sekolah yang bermasalah seolah berusaha menutupi kasus ini dengan menawarkan jalan “damai” kepada keluarga korban karena khawatir nama sekolah akan menjadi buruk dimata masyarakat.

Kasus kekerasan yang menimpa anak ini sebetulnya bukan hal yang baru. Komnas Perlindungan Anak mencatat, tahun 2011 ada 2.509 kasus kekerasan, 59 persen di antaranya adalah kekerasan seksual. Sementara tahun 2012 terdapat 2.637 kasus, 62 persen di antaranya adalah kekerasan seksual. Jumlah tersebut tentu saja tidak mencerminkan angka yang sebenarnya mengingat banyak juga orang tua yang enggan melapor karena takut akan adanya intimidasi dari pihak pelaku maupun karena adanya “kompensasi” yang diberikan oleh sekolah kepada korban sebagai hadiah tutup mulut.

Tingginya angka kekerasan terhadap anak ini tak terlepas dari vonis hukuman bagi pelaku yang dinilai terlalu ringan. Hukuman yang berlaku saat ini dinilai tidak mampu membuat efek jera bagi para pelaku. Hal ini tercermin dari banyaknya pelaku yang melakukan tindak kekerasan fisik maupun kekerasan seksual dengan jumlah korban lebih dari seorang didalam satu sekolah.

Untuk mencegah terjadinya hal serupa dimasa yang akan datang, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Pertama, mendorong DPR untuk membuat atau merubah undang-undang yang bisa memberikan efek jera bagi para pelaku kekerasan dengan cara memperberat vonis dari yang berlaku saat ini. Kedua, diperlukan peran yang lebih dari pengawas dan juga Komite Sekolah dalam memantau semua permasalahan yang terjadi di lapangan. Pengalaman menunjukkan, Komite Sekolah biasanya hadir menghadiri rapat dengan orang tua hanya ketika akan membicarakan kenaikan SPP maupun ketika membutuhkan bantuan untuk membangun gedung sekolah.

Ketiga, diperlukan kepedulian yang tinggi dari guru-guru lain jika ternyata ada rekannya yang melakukan perbuatan yang menyimpang disekolah. Hal ini dikarenakan tak sedikit guru yang bersifat passif atau cari aman ketika mengetahui rekannya melakukan penyimpangan, terlebih lagi jika yang melakukan perbuatan tersebut adalah orang yang mempunyai kedudukan tertentu disekolah.

Dengan berbagai upaya ini, diharapkan kedepan Sekolah Ramah Anak tak hanya menjadi slogan semata, namun benar-benar menjadi kenyataan. Dengan begitu, sekolah pun akan benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak untuk menuntut ilmu dan juga bermain.

Sumber : www.pancingkehidupan.com

Makna Evaluasi Pendidikan

Makna Evaluasi Pendidikan

Salah satu bentuk evaluasi hasil belajar siswa untuk jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA, yaitu Ujian Nasional baru saja dilaksanakan. Seperti kita ketahui, pemerintah menetapkan nilai ujian nasional sebagai salah satu faktor yang menentukan kelulusan peserta didik disamping nilai dari sekolah. Artinya, siswa yang nilai UN nya jeblok sudah bisa dipastikan tidak dapat dinyatakan lulus meskipun nilai raport ataupun nilai ujian sekolahnya tinggi. Tak heran jika banyak pihak mengangap UN layaknya https://termpaper4me.net https://termpaper4me.net https://termpaper4me.net taruhan, mengingat peluang yang dimiliki oleh siswa jika UN dilaksanakan dengan jujur adalah fifty-fifty.

Akibatnya, Ujian Nasional tak ubahnya sebuah arena pertandingan yang mempertontonkan pertarungan antara pemerintah melawan pihak sekolah. Dengan “jurus” soal UN yang disusun sebanyak 20 paket pemerintah terkesan ingin “menjegal” para peserta didik untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Disisi lain, nampaknya pihak sekolah pun tidak mau sampai kehilangan muka jika ada peserta didiknya yang sampai tidak lulus UN. Berbekal “pengalaman” dan “penguasaan” medan, nampaknya sekolah selalu mempunyai celah untuk melakukan “penyelamatan”.

Sejatinya evaluasi pendidikan bertujuan untuk menilai apakah program pembelajaran yang tengah dilakukan sudah berjalan dengan baik atau tidak, bukannya untuk menjegal maupun menyelamatkan peserta didik. Dengan begitu, evaluasi yang dilakukan akan benar-benar memiliki makna. Bagi peserta didik, hasil evaluasi yang objektif akan memberikan informasi tentang sejauh mana mereka sudah menguasai materi pelajaran, bab-bab atau pelajaran – pelajaran manakah yang masih harus mereka perdalam. Bagi tenaga pendidik, evaluasi yang dilakukan akan memberikan gambaran tentang kompetensi yang dimiliki siswa sekaligus memberikan feed back bagi guru yang bersangkutan dalam memperbaiki metode maupun strategi pmbelajaran yang selama ini digunakan.

Adapun bagi dinas terkait dalam hal ini Kemdikbud, hasil evaluasi yang objektif hendaknya menjadi informasi yang berharga tentang sejauh mana keberhasilan pemerintah dalam bidang pendidikan melalui program-programnya sekaligus masukan untuk memperbaiki program-program yang selama ini dianggap masih memiliki kekurangan. Berdasarkan penjelasan diatas, sudah seharusnya kita memandang evaluasi sebagai suatu upaya dalam rangka melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran dan bukan sebaliknya malah menjadi momok yang menakutkan, khususnya bagi peserta didik.

Disamping itu, diperlukan kelapangan dada dari semua pihak, khususnya pihak sekolah dan pemerintah dalam menerima berbagai masukan dari masyarakat, khususnya para tenaga pendidik yang memang tahu persis kondisi di lapangan. Dengan begitu kita berharap tujuan pendidikan nasional yang diamanatkan dalam undang-undang dapat tercapai dengan baik, yaitu membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.

Sumber : www.pancingkehidupan.com

Ironi Pendidikan Agama Islam

Ironi Pendidikan Agama Islam

Persoalan korupsi yang melanda negeri ini  seakan menjadi penyakit akut yang entah bagaimana cara mengobatinya dan entah harus mulai dari mana mengatasinya. Pemerintah seakan tak berdaya mencegah terjadinya korupsi yang dilakukan oleh para pejabat negara yang secara terus menerus menggerogoti kekayaan Negara. Disisi lain, masyarakat tetap setia menjadi korban keganasan perilaku korup yang dilakukan oleh para pejabat. Untuk mengatasi kondisi tersebut pemerintah mencoba peruntungan dengan https://time4essay.net https://time4essay.net https://time4essay.net mengeluarkan kebijakan perubahan kurikulum pendidikan yang saat ini sedang diuji publikkan. Dengan merubah kurikulum pendidikan, pemerintah berharap dapat memperbaiki moral peserta didik agar menjadi insane yang berkarakter mulia.
Akan tetapi nampaknya cita-cita luhur tersebut terkesan masih jauh panggang dari api. Alih – alih ingin memperbaiki akhlak peserta didik, konsep dari kurikulum baru ini malah lebih menekankan kemampuan kognitif siswa dari pada mewarnai konsep pendidikan dengan muatan karakter. Jika kita melihat jumlah jam pelajaran Pendidikan Agama Islam, baik itu yang berlaku di Sekolah Dasar, SMP maupun SMA ternyata pelajaran PAI ini hanya diberikan porsi yang sangat sedikit setiap minggu nya dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Pelajaran PAI masih dianggap pelajaran pelengkap dan bukan pelajaran utama disetiap satuan pendidikan. Maka tidak heran ketika kita melihat fenomena tawuran antar pelajar, pergaulan bebas dan masalah remaja lainnya sering kali mewarnai wajah dunia pendidikan di Negara kita.
Dilain pihak, pelaku korupsi khususnya korupsi kelas kakap ternyata bukanlah orang-orang yang tidak berpendidikan, melainkan orang-orang yang professional di bidang tertentu, lengkap dengan gelar pendidikan yang memadai. Hal ini mengandung arti bahwa ternyata masalah yang dialami oleh dunia pendidikan kita bukanlah kurangnya kompetensi dari para lulusan lembaga pendidikan, melainkan kompetensi yang dimiliki tersebut tidak dibarengi dengan moral yang baik. Bagaimana mungkin kita mengharapkan lahirnya insan-insan terdidik dengan akhlak mulia dari suatu proses pendidikan, sementara porsi yang kita berikan untuk membentuk karakter peserta didik sangatlah sedikit. Padahal pada dasarnya pendidikan agama lah yang sangat efektif dalam membentuk karakter seseorang.

Oleh karena itu, jika kita ingin melahirkan para peserta didik yang berakhlak mulia, ada baiknya pelajaran Pendidikan Agama ditambah porsinya, jika perlu berikan juga pelajaran tambahan diluar kelas. Adapun untuk kurikulum baru yang akan diberlakukan, sebaiknya pemerintah tidak terfokus pada kemampuan kognitif semata, akan tetapi ada baiknya mewarnai kurikulum tersebut dengan muatan karakter yang berbasiskan pendidikan agama, karena pendidikan karakter yang termuat dalam pendidikan agama sangatlah lengkap. Selain itu dengan pendidikan karakter yang berbasis pendidikan agama, peserta didik akan lebih mengenal siapa sosok yang harus dijadikan tauladan. (Republika, 07 Januari 2013)
Sumber : www.pancingkehidupan.com

Meniti Jalan Ketenangan

Meniti Jalan Ketenangan

tenang

 

Oleh : Syamil Azkiya

Ketenangan merupakan dambaan setiap orang. Setiap aktivitas apapun yang dilakukan, pada akhirnya mengharapkan kenyamanan dan ketenangan. Baik yang berangkat dari pemenuhan aspek materi, maupun yang langsung menyentuh https://essayservise.net https://essayservise.net https://essayservise.net aspek ruhani.

Petani dan karyawan kantor misalnya. Setiap pagi, keduanya berangkat menuju tempat kerja dengan tujuan mulia untuk mencari nafkah, agar dapat menghidupi keluarga dengan baik, sehingga tenang dan tidak kekurangan. Dengan terpenuhinya ketenangan secara materi, keduanya berharap ketenangan dari aspek-aspek lain pun bisa datang menghampiri. Misalnya, kalau kebutuhan pangan tercukupi, maka ibadah mahdhah pun akan lebih nyaman dan tenang.

Benarkah demikian? Faktanya tidak mutlak begitu. Bisa benar dan mungkin juga tidak. Banyak manusia yang berkemelimpahan harta tak kunjung menemukan ketenangan. Seakan-akan ketenangan itu telah tercabut dari hatinya, dan menjadi sesuatu yang mahal dan begitu berharga untuk dapat meraihnya. Berbagai upaya ia lakukan untuk menemukan ketenangan itu. Mulai dari mengunjungi tempat-tempat hiburan, hingga melakukan berbagai hal yang melanggar norma dan aturan. Wal’iyadzubillah.

Entah karena tak tahu, lupa, pura-pura lupa, atau bahkan karena tak mau diatur agama, seringkali manusia mencari ketenangan di tempat yang salah atau dengan cara yang tidak sesuai syari’ah. Sehingga yang terjadi bukan ketenangan yang menghampiri, justru kemalangan dan kehancuran yang semakin membumbung tinggi.

Dalam tataran yang sederhana, untuk menghilangkan galau, resah dan gelisah,  adakalanya manusia mengisi waktunya dengan permainan yang dianggapnya dapat menghilangkan lelah dan penat. Misalnya saja play station, nonton film picisan, ataupun aktivitas lainnya yang tidak sampai dalam tataran pelanggaran, tapi memiliki nilai rendah jika dibandingkan dengan aktivitas lain yang lebih bermakna.

Kalau saja mau jujur dan ridha menerima tuntunan Islam serta mengikuti cahayanya, tentu berbagai problematika kehidupan dapat dihadapi dengan lebih sederhana. Asal ada kemauan dan tekad kuat saja untuk menelusuri perjalanannya. Karena adakalanya, perjalanan taqwa itu sendiri tak selamanya sunyi dari onak dan duri. Namun selama tekad itu ada dan keimanan masih menyala di dada, insya Allah ketenangan dan ketentraman itu akan didapatkan.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d : 28)

Sahabat, mari kita meniti jalan ketenangan dan mencarinya dari sisi ilahi. Tidak akan pernah ada penyesalan dan kekecewaan saat menemui-Nya, walaupun berulang-ulang kali kita menghadap-Nya. Karena Dia lah pemilik segala-galanya. Dan hanya pada-Nya lah sumber ketenangan itu berada. (www.syamilazkiya.tk)

Makalah Membangun Sekolah Bermutu

Makalah Membangun Sekolah Bermutu

MEMBANGUN SEKOLAH BERMUTU

Oleh : Feri Rustandi, S.Pd

(Disajikan dalam rangka Fit And Proper Tes Penjaringan Kepala Sekolah)

 

Abstraksi

Menciptakan Pendidikan https://time4essay.com https://time4essay.com https://time4essay.com bermutu merupakan amanah Undang-undang. Mewujudkannya juga harus dilakukan dengan strategi yang berkualitas. Faktor guru/Kepala Sekolah memegang peran sangat penting dalam mengantarkan sekolah menjadi sekolah berkualitas. Oleh karena itu penjaringan, pengelolaan dan Pemeliharaan guru harus dilakukan serius. Mereka harus dijamin ketenangan dan kenyamanan hidup dan masa depannya, agar mereka memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas/kerja dan Prestasi. Menjadikan sekolah berkualitas bukanlah tanpa kendala dan biaya. Biaya dan Guru merupakan kendala yang banyak dialami oleh sekolah-sekolah swasta, sehingga dukungan dan peran aktif yayasan/ perusahaan dibutuhkan. Peran para orang tua dan pemerintah juga memiliki andil yang cukup berarti. Belajar dari pengalaman sekolah/orang lain yang telah berhasil akan menambah kemampuan dan mempercepat tercapainya tujuan.

 

1. Pendahuluan

Daoed Joesoef menyatakan tentang pentingnya pendidikan : “Pendidikan merupakan segala bidang penghidupan, dalam memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat manusia” Dan tentulah dari pernyataan tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan. Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit untuk berkembang dan bahkan akan sangat terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, disamping memiliki budi perkerti yang luhur dan moral baik.

Salah satu isu penting dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia saat ini adalah peningkatan mutu pendidikan, namun yang terjadi justru kemerosotan pendidikan dasar, menengah, maupun tingkat pendidikan tinggi. Hal ini berlangsung akibat penyelenggaraan pendidikan yang lebih menitikberatkan pada aspek kuantitas dan kurang dibarengi dengan aspek kualitasnya. Peningkatan kualitas pendidikan ditentukan oleh peningkatan proses belajar mengajar. Dengan adanya peningkatan proses belajar mengajar dapat meningkat pula kualitas lulusannya. Peningkatan kualitas proses pembelajaran ini sangat tergantung pada pengelolaan sekolah dan pengajaran/pendekatan yang diterapkan guru.

Menyelenggarakan Pendidikan berkualitas merupakan amanah Undang-undang yang tertuang dalam Undang-undang Sisdiknas tahun 2003. Pada pasal 3 disebutkan bahwa:  Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas 2003 pasal 3).

Pendidikan yang berkualitas adalah Pendidikan yang mampu mengembangkan kemampuan, membentuk Karakter dan Peradaban Bangsa. Oleh karena itu harus dikembangkan dalam pendidikan di sekolah aspek : keimanan, ketaqwaan, akhlak mulia, kesehatan, ilmu, kecakapan, kreativitas, kemandirian, demokrasi dan tanggung jawab pada anak didik dan seluruh stakeholders Pendidikan.

Belakangan banyak bermunculan sekolah-sekolah yang berlebel unggulan, sebagai manifestasi dari harapan untuk mewujudkan UU sisdiknas tersebut. Pada hakekatnya semua sekolah berkewajiban menjadikan sekolahnya unggul/berkualitas atau unggulan dalam arti setiap sekolah harus (1) mampu memberikan layanan optimal kepada seluruh anak dengan berbagai perbedaan bakat, minat & kebutuhan belajar ; (2) mampu meningkatkan secara signifikan kapabilitas yang dimiliki anak didik menjadi aktualisasi diri yang memberikan kebanggaan. (3) mampu membangun karakter kepribadian yang kuat, kokoh dan mantap dalam diri siswa.

Kondisi Saat ini kebanyakan sekolah hanya mengembangkan aspek-aspek pendidikan secara dangkal : Dimensi kognitif (hanya menghafal);Dimensi keterampilan (mekanistik); Dimensi nilai tidak terurus dan tidak mendalam; Dimensi hubungan (ranah interaktif) tidak tergarap. Padahal seharusnya sekolah berkualitas mampu mengembangkan Dimensi kognitif (menguasai pengetahuan dan bidang studi); Dimensi ketrampilan: a.l. ketrampilan untuk melakukan pekerjaan, pemecahan masalah, berfikir kreatif, dll. Dimensi nilai: a.l. sikap terhadap diri, terhadap orang lain, terhadap lingkungan, dan kepada Maha Pencipta; Dimensi hubungan: hubungan yang dibangun oleh keluaran pendidikan (outcome) terutama dunia kerja dan masyarakat.

2. Konsep Sekolah yang berkualitas

Sekolah unggulan yang sebenarnya dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga sekolah (civitas, murid dan orang tua murid/stakholder sekolah), bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan. Dalam konsep sekolah unggulan yang saat ini diterapkan, untuk menciptakan prestasi siswa yang tinggi maka harus dirancang kurikulum yang baik yang diajarkan oleh guru-guru yang berkualitas tinggi. Padahal sekolah unggulan yang sebenarnya, keunggulan akan dapat dicapai apabila seluruh sumber daya sekolah dimanfaatkan secara optimal. Berati tenaga administrasi, pengembang kurikulum di sekolah, kepala sekolah, dan tenaga teknis pun harus dilibatkan secara aktif. Karena semua sumber daya tersebut akan menciptakan iklim sekolah yang mempu membentuk keunggulan sekolah.

Keunggulan sekolah terletak pada bagaimana cara sekolah merancang-bangun sekolah sebagai organisasi. Maksudnya adalah bagaimana struktur organisasi pada sekolah itu disusun, bagaimana warga sekolah berpartisipasi, bagaimana setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab yang sesuai dan bagaimana terjadinya pelimpahan dan pendelegasian wewenang yang disertai tangung jawab. Semua itu bermuara kepada kunci utama sekolah unggul adalah keunggulan dalam pelayanan kepada siswa dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensinya.

Sekolah dalam hal ini sebagai satuan pendidikan, sebagai penyelenggara pendidikan berbagai jenis dan macam bentuknya, seiring dengan perkembangan dan kebutuhan tidak sedikit berkembang sekolah yang memberikan kekhasan/pemodelan yang tujuannya untuk lebih mengakomodir dan memberikan nilai tambah akan kualitas yang diharapkan seperti muncul sekolah dengan konsep full day, sekolah alam, pesantren, Islamic boarding school dengan mengkombinasikan kurikulum yang standar dengan kurikulum kekhasan berbasis kebutuhan dan bisa menjawab kebutuhan paripurna peserta didik dan orang tua. Menyorot terkait lahirnya Islamic Boarding School tentu sangat menarik untuk dikaji mengingat konsep yang diterapkan sangat komprehensif, bukan hanya mengoptimalkan ranah kognitif tetapi ranah afektif (kemandirian, pendewasaan, life skill) dan ranah spiritualitas sangat mendalam, tentu ini lebih berpeluang untuk mewujudkan dan membentuk insan yang seutuhnya.

Dalam implementasinya membangun sekolah bermutu perlu pendalaman konsep yang harus komprehensif, tidak bisa hanya satu atau dua elemen sistem yang berjalan melainkan antara komponen satu dengan yang lainnya bisa saling menguatkan dan bersinergis untuk bisa menggapai tujuan yang hendak dicapai, diawali dengan visi, misi dan tujuan sekolah yang jelas dan terukur, daya dukung yang kuat dan pengelolaan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan tentu ini menjadi bagian yang harus diperhatikan. Dewasa ini dalam istilah manajemen untuk menuju pengelolaan yang menyeluruh dan berorientasi pada mutu, sering dikenal dengan istilah Manajemen Mutu Total (MMT) lebih populer dalam dunia industri dengan istilah Total Quality Manajemen (TQM). Pendekatan yang dapat digunakan untuk menjelaskan karakteristik MMT di sekolah adalah pendekatan input, proses , output dan outcome.

a. Input Sekolah

Memiliki kebijakan mutu, manajemen sekolah beserta segenap warga sekolah menetapkan kebijakan mutu yang akan dijadikan patokan dalam pengembangan sekolah. Sumber daya tersedia dan bermutu, menyediakan sumber daya yang bermutu yang dibutuhkan dalam menunjang pengembangan sekolah. Memiliki harapan yang tinggi terhadap prestasi yang ingin diraih, fokus pada pelanggan (terutama peserta didik), kebijakan dan penyelenggaraan proses diarahkan pada upaya teciptakan kepuasan pelanggan. Input sekolah diawali dari rancang bangun sistem yang sudah ajeg dan siap di implementasikan, proses seleksi murid yang komprehensif (bukan hanya aspek kognitif melainkan mengakomodir ranah, afektif dan psikomotorik) tentu dilakukan dengan proses yang sangat ketat dengan didukung instrumen-instrumen tes yang kompetitif. Selain seleksi murid tidak ketinggalan dan sangat vital juga fatal adalah seleksi dan penempatan guru dan pegawai yang harus berbasis kebutuhan dan memiliki standarisasi yang jelas dan terukur,karena merekalah selaku penyelenggara pendidikan yang akan membawa kearah mana sekolah ini di bawa. Penempatan posisi dan jabatan pun menjadi hal terpenting agar dikemudian hari tidak salah kaprah, artinya harus menempatkan sesuai dengan kompetensinya.

b. Proses

Berbicara proses merupakan upaya manajemen sekolah menyiapkan dan menggerakan roda sekolah agar berjalan sebagaimana mestinya, tentu segala sesuatunya harus berdasarkan perhitungan dan pengukuran terlebih dapat dipertanggungjawabkan. Fungsi manajemen harus berjalan sebagai mana mestinya dari mulai Planning, Organizing, Actuating dan Controling harus menjadi pedoman bersama. Karena hasil yang baik itu hanya akan tercapai kalau prosesnya baik, terlebih Allah lebih menilai usaha (proses) hambanya di banding hasilnya, tetapi tidak dapat dipungkiri hasil yang didapat itu merupakan buah dari proses yang optimal. Beberapa hal yang menjadi hal terpenting yang perlu di jalankan sebaik mungkin.

  1. Efektifitas pembelajaran, artinya semua guru harus peduli pada upaya untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran secara berkelanjutan sebagai wujud komitmennya terhadap kebijakan mutu yang telah ditetapkan bersama. Dalam konsep pemebelajaran dikenal dengan PAIKEM (Pembelajaran aktif,kreatif dan menyenangkan) dengan mengedapkan pada kamampuan peserta didik dan mengakomodir dimensi kebutuhan manusia, fikriyah, jasadiyah dan ilahiyah
  2. Kepemimpinan yang kuat dan handal, maksudnya kepemimpinan yang visioner, kreatif, inovatif dan kuat pendirian dalam meningkatkan mutu layanan kepada pelanggan akan sangat menentukan terwujudnya tujuan organisasi sekolah
  3. Pengelolaan tenaga pendidik dan kependidikan yang efektif
  4. Sekolah memiliki budaya mutu, maksudnya pelayanan bermutu kepada pelanggan harus menjadi milik dan budaya segenap personel sekolah
  5. Sekolah memilik teamwork yang kompak,solid, cerdas dan dinamis sebagai basis upaya mewujudkan kepuasan pelanggan
  6. Sekolah memiliki kemandirian dalam menetapkan, merencanakan dan melaksanakan keinginan-keinginannya dengan dukungan sumber daya yang mandiri pula
  7. Partisipasi warga sekolah dan masyarakat, bahwa upaya mewujudkan layanan bermutu bukan merupakan kerja mandiri menajemen sekolah, tetapi merupakan milik semua warga sekolah dan masyarakat sebagai stakeholder
  8. Sekolah memiliki manajemen yang transparan sebagai jaminan akuntabilitas terhadap warganya dan pengguna layanannya
  9. Sekolah beserta segenap personelnya memiliki kemauan untuk berubah kearah yang lebih baik
  10. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara terus menerus
  11. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan yang terus berkembang
  12. Sekolah memiliki akuntabilitas yang tinggi terhadap warga maupun stakeholdernya
  13. Sekolah memiliki sustainabilitas, untuk menjamin kehidupan sekolah di masa mendatang dan karenanya kreativitas, inovasi sangat diperlukan
  14. Budaya kerja yang kondusif dan produktif

c. Output yang diharapkan

Output sekolah adalah hasil kinerja sekolah, yakni berupa prestasi dan kualitas lulusan yang tinggi sebagai gambaran dari kinerja sekolah yang efektif, produktif, efisien, inovatif, dan budaya kerja yang baik. Output dibagi ke dalam dua bagian, yaitu pertama output pencapaian non akademik yang berupa perubahan sikap dan perilaku yang baik (moralitas yang tinggi) dan kedua output pencapaian akademik berupa penguasaan iptek dan skill yang handal. Atau dalam kelembagaan pendidikan yayasan dikenal dengan Kompetensi Lulusan. Dan menjadi pertanyaan sebagai alat ukur adalah Seberapa persenkan standar kompetensi lulusan di capai, apakah sesuai dengan targetan awal, bagaimana hasil evaluasinya

d. Outcome

Outcome sekolah adalah hasil yang menggambarkan tinggi rendahnya kualitas lulusan sekolah yang memberi dampak multiplier. Tinggi rendahnya kualitas lulusan ini diukur dengan kemampuan bersaing di pasar kerja dan/atau masyarakat. Ketika lulusan dapat langsung bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya, dan perilakunya dapat diterima oleh masyarakat dengan baik, maka dapat dikatakan kualitas outcome yang tinggi. Disisi lain outcampe yang diharapkan bukan hanya beban secara personal terlebih kontribusinya bisa memberikan perubahan yang besar kepada perubahan bangsa dan negara

 

3. Syarat Sekolah yang bermutu

Sekolah yang berkualitas tidak lahir dengan sendirinya. Juga tidak lahir semata-mata karena fasilitas yang dimiliki. Sekolah yang berkualitas harus dibentuk dan direncanakan dengan baik serta dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Komitmen warga sekolah dan stake holder, adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari lahirnya sebuah sekolah yang berkualitas.

Glasser, dalam bukunya yang kedua, The Quality School Teacher memberi pesan kepada kita bahwa sedikitnya ada enam syarat yang harus dipenuhi sebuah sekolah agar menjadi sekolah berkualitas. Keenam syarat tersebut adalah sebagai berikut:

a) Harus ada lingkungan kelas yang hangat dan mendukung.

Tanpa adanya jalinan yang akrab antara semua warga sekolah (guru, siswa, staf, dan karyawan lain) tidak bias dihasilkan tugas-tugas sekolah yang berkualitas, dan lebih dari semua itu harus terbangun saling percaya/kepercayaan.

b) Siswa harus selalu diminta untuk melakukan hal-hal yang berguna.

Tidak boleh ada siswa yang diminta untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti mengingat atau menghafal (secara berlebihan). Apa pun yang mereka kerjakan, harus ada manfaatnya – secara praktis, estetis, intelektual, atau pun sosial.

c) Siswa selalu diminta untuk mengerjakannya sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya.

Ini berarti siswa harus diberi kesempatan yang memadai untuk dapat mengerjakan tugas-tugasnya agar pekerjaannya berkualitas. Mereka sebenarnya sudah biasa diberi tugas, tetapi bukan belajar, dan hampir tidak pernah berusaha melakukan pekerjaan yang berkualitas.

d) Siswa diajari dan diberi kesempatan mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri, kemudian diminta untuk meningkatkannya.

Mengevaluasi sendiri adalah hal yang paling sulit diterapkan, tetapi penting dilakukan untuk mencapai perbaikan yang konstan dalam usaha siswa menghasilkan pekerjaan berkualitas.

e) Pekerjaan yang berkualitas selalu terasa menyenangkan.

Sungguh menyedihkan melihat sangat sedikit siswa yang merasa nyaman dalam pelajaran-pelajaran mereka sekarang. Bukan hanya siswa yang merasa senang jika mereka berhasil mengerjakan sesuatu dengan berkualitas, guru dan orangtua pun merasa senang memerhatikan proses itu.

f) Pekerjaan berkualitas tidak pernah bersifat merusak.

Tidak berkualitas namanya, jika meraih perasaan senang dengan cara memakai obat adiktif atau merugikan orang lain, makhluk hidup, benda milik orang lain, atau lingkungan.

4. Ciri-ciri sekolah yang bermutu

Pertama, visi dan misi sekolah yang jelas. Mayoritas sekolah kita belum mampu– dan memang tidak diberdayakan untuk mampu–mengartikulasikan visi dan misinya. Visi adalah pernyataan singkat, mudah diingat, pemberi semangat, dan obor penerang jalan untuk maju melejit. Misalnya, “SMA berbasis komputer”, “SD berbasis kelas kecil”, “SMP berbasis IST (information system technology),” “SMK bersistem asrama,” “Aliyah dengan pengantar tiga bahasa,” dan sebagainya.Konsep iman dan taqwa (imtaq) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) selama ini terlalu sering dipakai sehingga maknanya tidak jelas, mengawang-awang, filosofis, dan tidak operasional.

Misi adalah dua atau tiga pernyataan sebagai operasionalisasi visi, misalnya “membangun siswa yang kreatif dan disiplin,” dan sebagainya. Walau begitu, ada prioritas yang diunggulkan dalam rentang zaman secara terencana. Prioritas ini dinyatakan eksplisit dalam rencana kerja tahunan sekolah.Untuk mengimplementasikan visi dan misi sekolah ada sejumlah langkah yang mesti ditempuh: (1) pahami kultur sekolah, (2) hargai profesi guru, (3) nyatakan apa yang Anda hargai, (4) perbanyak unsur yang Anda hargai, (5) lakukan kolaborasi dengan pihak-pihak terkait, (6) buat menu kegiatan bukan mandat, (7) gunakan birokrasi untuk memudahkan bukan untuk mempersulit, dan (8) buatlah jejaring (networking) seluas mungkin.

Kedua, komitmen tinggi untuk unggul. Staf administrasi, guru, dan kepala sekolah memiliki tekad yang mendidih untuk menjadikan sekolahnya sebagai sekolah unggul dalam segala aspek, sehingga semua siswa dapat menguasai materi pokok dalam kurikulum. Semuanya memiliki potensi untuk berkontribusi dalam proses pendidikan. Komitmen ini adalah energi untuk mengubah budaya konvensional (biasa-biasa saja) menjadi budaya unggul.

Ketiga, kepemimpinan yang mumpuni. Kepala sekolah adalah “pemimpin dari pemimpin” bukan “pemimpin dari pengikut.” Artinya selain kepala sekolah ada pemimpin dalam lingkup kewenangannya sehingga tercipta proses pengambilan keputusan bersama (shared decision making). Komunikasi terus-menerus dilkukan antara kepala sekolah dan para guru untuk memahami budaya dan etos sekolah yang yang diimpikan lewat visi sekolah itu. Bila tidak dikomunikasikan terus-menerus, visi itu akan mati sendiri.

Guru juga adalah pemimpin dengan kualitas sebagai berikut: (1) terampil menggunakan model mengajar berdasarkan penelitian, (2) bekerja secara tim dalam merencanakan pelajaran, menilai siswa, dan dalam memecahkan masalah, (3) sebagai mentor bagi koleganya, (4) mengupayakan pembelajaran yang efisien, dan (5) berkolaborasi dengan orang tua, keluarga, dan anggota masyarakat lain demi pembelajaran siswa.

Keempat, kesempatan untuk belajar dan pengaturan waktu yang jelas. Semua guru mengetahui apa yang mesti diajarkan. Alokasi waktu yang memadai dan penjadwalan yang tepat sangat berpengaruh bagi kualitas pengajaran. Guru memanfaatkan waktu yang tersedia semaksimal mungkin demi penguasaan keterampilan azasi. Dalam hal ini perlu dijaga keseimbangan antara tuntutan kurikulum dengan ketersediaan waktu. Kunci keberhasilan dalam hal ini adalah mengajar dengan niat akademik yang jelas dan siswa pun mengetahui niat itu. Mengajar yang berkualitas memiliki ciri sebagai berikut: (1) organisasi pembelajaran yang efisien, (2) tujuan yang jelas, (3) pelajaran yang terstruktur, dan (4) praktik mengajar yang adaptif dan fleksibel.

Kelima, lingkungan yang aman dan teratur. Sekolah unggul bersuasana tertib, bertujuan, serius, dan terbebas dari ancaman fisik atau psikis, tidak opresif tetapi kondusif untuk belajar dan mengajar. Siswa diajari agar berperilaku aman dan tertib melalui belajar bersama (cooperative learning), menghargai kebinekaan manusiawi, serta apresiasi terhadap nilai-nilai demokratis. Banyak penelitian menunjukkan bahwa suasana sekolah yang sehat berpengaruh positif terhadap produktivitas, semangat kerja, dan kepuasan guru dan siswa.

Keenam, hubungan yang baik antara rumah dan sekolah. Para orang tua memahami misi dan visi sekolah. Mereka diberi kesempatan untuk berperan dalam program demi tercapainya visi dan misi tersebut. Dengan demikian, sekolah tidak hanya mendidik siswa, tetapi juga orang tua sebagai anggota keluarga sekolah yang dihargai dan dilibatkan. Dengan melibatkan mereka pada kegiatan ekstra di akhir pekan (extra school) misalnya, siswa sadar bahwa orang tuanya menghargai kegiatan pendidikan, sehingga mereka pun menghargai pendidikan yang dilakoninya. Inilah contoh konkret hubungan tripatriat sekolah-siswa-orang tua. Upacara-upacara yang dihadiri orang tua sesungguhnya merupakan kesempatan untuk membangun citra sekolah dan untuk merayakan visi dan misi. Singkatnya, sekolah unggul membangun “kepercayaan” dan silaturahmi sehingga masing-masing memiliki nawaitu tinggi untuk melejitkan prestasi.

Ketujuh, monitoring kemajuan siswa secara berkala. Kemajuan siswa dimonitor terus- menerus dan hasil monitoring itu dipergunakan untuk memperbaiki perilaku dan performansi siswa dan untuk memperbaiki kurikulum secara keseluruhan. Penggunaan teknologi, khususnya komputer memudahkan dokumentasi hasil monitoring secara terus- menerus.

Evaluasi penguasaan materi pelajaran secara perlahan bergeser dari tes baku (standardized norm-referenced paper-pencil test) menuju tes berdasar kurikulum dan berdasar kriteria (curricular-based, criterion-referenced). Dengan kata lain, evaluasi akan lebih berfokus pada performansi dan dokumentasi prestasi siswa sebagaimana terakumulasi dalam portofolio. Dokumentasi prestasi ini bukan hanya untuk guru, tetapi juga untuk dikomunikasikan kepada orang tua.

Sekolah sebagai sistem juga dimonitor secara berkelanjutan. Artinya sekolah tidak hanya terampil memonitor kemajuan siswa, tetapi juga siap mengevaluasi dirinya sendiri. Hasil evaluasi diri ini merupakan bahan bagi pihak lain (external evaluators) untuk mengevaluasi kinerja sekolah itu. Inilah makna akuntabilitas publik. Sekolah harus mengagendakan program rujuk mutu (benchmarking) kepada sekolah lain, sehingga sadar akan kelebihan dan kekurangan sendiri.

Model sekolah unggul seperti digambarkan di atas akan berwujud bila sekolah tidak eksklusif bak menara gading, tetapi tumbuh sebagai bagian dari masyarakat sehingga memiliki kepekaan terhadap nurani masyarakat (a sense of community). Dalam masyarakat setiap individu berhubungan dengan individu lain, dan masing-masing memiliki potensi dan kualitas yang dapat disumbangkan pada sekolah.

Dalam era reformasi tetapi juga dalam keterpurukan ekonomi sekarang ini, kita merasakan keterbatasan dana dan menyaksikan tuntutan yang semakin tinggi akan adanya otonomi sekolah, akuntabilitas publik dan tranparansi, serta adanya harapan besar dari orang tua. Bila ketujuh ayat di atas dilaksanakan, pendidikan yang diselenggarakan sekolah akan berdampak dahsyat pada pembentukan manusia kapital di tanah air.

5. Restrukturisasi Sekolah bermutu.

Sekarang ini masih banyak sekolah yang mengaku sekolah yang bermutu namun masih menerapkan konsep sekolah yang tidak bermutu. Maka konsep sekolah bermutu yang tidak unggul ini harus segera direstrukturisasi. Restrukrutisasi sekolah bermutu yang ditawarkan adalah sebagai berikut:

pertama, program sekolah unggulan tidak perlu memisahkan antara anak yang memiliki bakat keunggulan dengan anak yang tidak memiliki bakat keunggulan. Kelas harus dibuat heterogen sehingga anak yang memiliki bakat keunggulan bisa bergaul dan bersosialisasi dengan semua orang dari tingkatan dan latar berlakang yang beraneka ragam. Pelaksanaan pembelajaran harus menyatu dengan kelas biasa, hanya saja siswa yang memiliki bakat keunggulan tertentu disalurkan dan dikembangkan bersama-sama dengan anak yang memiliki bakat keunggulan serupa. Misalnya anak yang memiliki bakat keunggulan seni tetap masuk dalam kelas reguler, namun diberi pengayaan pelajaran seni.

Kedua, dasar pemilihan keunggulan tidak hanya didasarkan pada kemampuan intelegensi dalam lingkup sempit yang berupa kemampuan logika-matematika seperti yang diwujudkan dalam test IQ. Keunggulan seseorang dapat dijaring melalui berbagai keberbakatan seperti yanag hingga kini dikenal adanya 8 macam.

Ketiga, sekolah unggulan jangan hanya menjaring anak yang kaya saja tetapi menjaring semua anak yang memiliki bakat keunggulan dari semua kalangan. Berbagai sekolah unggulan yang dikembangkan di Amerika justru untuk membela kalangan miskin. Misalnya Effectif School yang dikembangkan awal 1980-an oleh Ronald Edmonds di Harvard University adalah untuk membela anak dari kalangan miskin karena prestasinya tak kalah dengan anak kaya. Demikian pula dengan School Development Program yang dikembangkan oleh James Comer ditujukan untuk meningkatkan pendidikan bagi siswa yang berasal dari keluarga miskin. Accellerated School yang diciptakan oleh Henry Levin dari Standford University juga memfokuskan untuk memacu prestasi yang tinggi pada siswa kurang beruntung atau siswa beresiko. Essential school yang diciptakan oleh Theodore Sizer dari Brown University, ditujukan untuk memenuhi kebutuhan siswa kurang mampu.

Keempat, sekolah unggulan harus memiliki model manajemen sekolah yang unggul yaitu yang melibatkan partisipasi semua stakeholder sekolah, memiliki kepemimpinan yang kuat, memiliki budaya sekolah yang kuat, mengutamakan pelayanan pada siswa, menghargasi prestasi setiap siswa berdasar kondisinya masing-masing, terpenuhinya harapan siswa dan berbagai pihak terkait dengan memuaskan.

Itu semua akan tercapai apabila pengelolaan sekolah telah mandiri di atas pundak sekolah sendiri bukan ditentukan oleh birokrasi yang lebih tinggi. Saat ini amat tepat untuk mengembangkan sekolah unggulan karena terdapat dua suprastruktur yang mendukung. Pertama, UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dimana pendidikan termasuk salah satu bidang yang didesentralisasikan. Dengan adanya kedekatan birokrasi antara sekolah dengan Kabupaten/Kota diharapkan perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan sekolah unggulan semakin serius.

Kelima, adanya UU No. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004 yang didalamnya memuat bahwa salah satu program pendidikan pra-sekolah, pendidikan dasar dan pendidikan menengah adalah terwujudnya pendidikan berbasis masyarakat/sekolah. Melalui pendidikan berbasis masyarakat/sekolah inilah warga sekolah akan memiliki kekuasaan penuh dalam mengelola sekolah. Setiap sekolah akan menjadi sekolah unggulan apabila diberi wewenang untuk mengelola dirinya sendiri dan diberi tanggung jawab penuh.

Selama sekolah-sekolah hanya dijadikan alat oleh birokrasi di atasnya (baca: dinas pendidikan) maka sekolah tidak akan pernah menjadi sekolah unggulan. Bisa saja semua sekolah menjadi sekolah unggulan yang berbeda-beda berdasarkan pontensi dan kebutuhan warganya. Apabila semua sekolah telah menjadi sekolah unggulan maka tidak sulit bagi negeri ini untuk bangkit dari keterpurukannya.

6. Kerangka Kerja dalam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah

Dalam manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini diharapkan sekolah dapat bekerja dalam koridor – koridor tertentu antara lain sebagai berikut :

Sumber daya; sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. Selain pembiayaan operasional/administrasi, pengelolaan keuangan harus ditujukan untuk :

Memperkuat sekolah dalam menentukan dan mengalolasikan dana sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan untuk proses peningkatan mutu, Pemisahan antara biaya yang bersifat akademis dari proses pengadaannya, dan Pengurangan kebutuhan birokrasi pusat.

Pertanggung-jawaban (accountability); sekolah dituntut untuk memilki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. Hal ini merupakan perpaduan antara komitment terhadap standar keberhasilan dan harapan/tuntutan orang tua/masyarakat. Pertanggung-jawaban ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan. Untuk itu setiap sekolah harus memberikan laporan pertanggung-jawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua/masyarakat dan pemerintah, dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas

sekolah dalam proses peningkatan mutu.

Kurikulum; berdasarkan kurikulum standar yang telah ditentukan secara nasional, sekolah bertanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum baik dari standar materi (content) dan proses penyampaiannya. Melalui penjelasan bahwa materi tersebut ada mafaat dan relevansinya terhadap siswa, sekolah harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan melibatkan semua indera dan lapisan otak serta menciptakan tantangan agar siswa tumbuh dan berkembang secara intelektual dengan menguasai ilmu pengetahuan, terampil, memilliki sikap arif dan bijaksana, karakter dan memiliki

kematangan emosional. Untuk melihat progres pencapain kurikulum, siswa harus dinilai melalui proses test yang dibuat sesuai dengan standar nasional dan mencakup berbagai aspek kognitif, affektif dan psikomotor maupun aspek psikologi lainnya. Proses ini akan memberikan masukan ulang secara obyektif kepada orang tua mengenai anak mereka (siswa) dan kepada sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya mengenai performan sekolah sehubungan dengan proses peningkatan mutu pendidikan.

Personil sekolah; sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru dan staf lainnya). Sementara itu pembinaan profesional dalam rangka pembangunan kapasitas/kemampuan kepala sekolah dan pembinaan keterampilan guru dalam pengimplementasian kurikulum termasuk staf kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah. Untuk itu birokrasi di luar sekolah berperan untuk menyediakan wadah dan instrumen pendukung. Institusi pusat memiliki peran yang penting, tetapi harus mulai dibatasi dalam hal yang berhubungan dengan membangun suatu visi dari sistem pendidikan secara keseluruhan, harapan dan standar bagi siswa untuk belajar dan menyediakan dukungan komponen pendidikan yang relatif baku atau standar minimal. Konsep ini menempatkan pemerintah dan otoritas pendiidikan lainnya memiliki tanggung jawab untuk menentukan kunci dasar tujuan dan kebijakan pendidikan dan memberdayakan secara bersama-sama sekolah dan masyarakat untuk bekerja di dalam kerangka acuan tujuan dan kebijakan pendidikan yang telah dirumuskan secara nasional dalam rangka menyajikan sebuah proses pengelolaan pendidikan yang secara spesifik sesuai untuk setiap komunitas masyarakat.

7. Implementasi Manajemen Mutu Total (MMT) Di Assyifa Boarding School

Yang penulis paparkan diatas merupakan deskripsi umum tentang pengelolaan sekolah bermutu, melihat segala potensi sumber daya yang sudah dan akan dimiliki Assyifa Boarding School itu merupakan peluang yang sangat besar untuk diterapkan dan di optimalkan. Sekalipun masih dibilang prematur tetapi sudah banyak karya dan hasil nyata yang dirasakan oleh khalayak. Keberhasilan yang diperoleh bukan hanya untuk direnungi melainkan dijadikan sebagai modal untuk melaju lebih cepat lagi ke arah yang lebih baik lagi sehingga mempunyai daya saing di kalangan lokal, nasional bahkan internasional.

Implementasi konsep pendidikan di Assyifa Boarding School sudah mengakomodir dimenasi kebutuhan manusia (fikriyah, jasadiyah dan imaniah) dengan Trilogi AHA (Alim, Hafidz, dan Amil) yang mengintegrasikan sekolah, asrama, masjid dan infrastuktur yang ada. Tetapi disisi lain secara proses masih banyak yang harus dibenahi dan ditingkatkan.

Dengan segenap potensi sumber daya yang sangat potensial, kelemahan/kekurangan tersebut sangat memungkinkan bisa teratasi dengan baik, tinggal disamakan suhu semua personel dan tentunya kemauan kuat untuk berlari bukan berjalan biasa demi sebuah progresifitas dan dinamisasi. Semua itu hanya bisa mampu terwujud ketika semua pihak semuanya terlibat dan tentunya butuh sosok pemimpin yang mampu menggerakan semua itu.

Wallahu ‘alam bishowab

  *) Keterangan : Diolah dari berbagai sumber

..