Pemuda Harus Tebar Virus Perdamaian

Pemuda Harus Tebar Virus Perdamaian

 Aan Kurniawan Saputra Ka.Dept. INFOKOM KAMMI IAIN Raden Intan Lampung

Aan Kurniawan Saputra
Ka.Dept. INFOKOM KAMMI IAIN Raden Intan Lampung

https://bestpaperwrirters.net https://bestpaperwrirters.net https://bestpaperwrirters.net
Islamedia – Berkaca dari berbagai realita yang terjadi di masyarakat saat ini terjadi sebuah persengketaan yang sejatinya tak perlu diperdebatan. Perdebatan yang bukan terorganisir dalam sebuah lomba debat tetapi perdebatan yang didasari ego dan nafsu belaka. Indonesia merupakan negara multikultural dimana semua warganya bebas dalam menentukan keyakinannya. Inilah yang menjadikan semua organisasi dapat tumbuh subur di Indonesia.

Indonesia mempunyai ciri khas beragam adat dan budaya. Jika hari ini pemerintah tidak pandai mengelola dan mengorganisirnya maka ini bisa menjadi potensi konflik. Begitupun sebaliknya jika pemerintah pandai mengorganisirnya maka ini akan menjadi potensi yang indah dan menjadi ciri khusus negara Indonesia.

Pemuda adalah suatu umur yang memiliki kehebatan sendiri, menurut DR.Yusuf Qardhawi ibarat matahari maka usia muda ibarat jam 12 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas.Pemuda mempunyai kekuatan yang lebih secara fisik dan semangat bila dibanding dengan anak kecil atau orang-orang jompo. Oleh karena itu pemuda memiliki taring dan ujung tombak pembangunan serta perkembangan Indonesia menuju lebih gemilang.

Pada masa abad zaman teknologi ini, Pemuda mulai dilenakan dengan pergaulan-pergaulan yang tak semestinya dilakukan. Pemuda lebih memilih duduk diam bermain internet daripada gotong royong. Pemuda lebih memilih bermain game online ketimbang harus berorganisasi. Pemuda memilih harus pulang kampung ketimbang mengurusi permasalahan dunia kampus yang carut marut. lalu apa yang bisa dibanggakan dari seorang pemuda ?

Menelisik konflik-konflik yang erjadi di daerah-daerah di Indonesia kebanyakan di gawangi oleh pemuda. Pemuda yang mengedepankan ego dan gengsinya, Pemuda hanya berfikir sempit tanpa memikirkan akan sebuah akibat yang akan dilakukaknya. Seolah-olah tak ada lagi nilai-nilai semangat yang terorganisir dalam bingkai perdamaian. Pemuda haruslah kaya dengan sebuah karya, semangat, dan energiknya. Pemuda memiliki peranan penting dalam sebuah masyarakat, dibalik pemikirannya yang kreatif dan kritis.

Pemuda menjadi tonggak dimana untuk berkaca akan jadi apa Indonesia kedepan adalah melihat bagaimana pemuda hari ini. dalam konteks perdamaian pemuda haruslah mengambil bagian terdepan. Tidak bisa seorang pemuda hanya mengandalkan ototnya yang besar dan suaranya yang lantang. Tetapi pemuda harus menularkan pemikiran kritisnya untuk menjadikan masyarakat hidup secara damai. Itulah yang diemban pemuda hari ini, menjadi bagian penengah dan icon serta tolak ukur bagaimana Indonesia dimasa yang akan datang.

Aan Kurniawan Saputra
Ka.Dept. INFOKOM KAMMI IAIN Raden Intan Lampung
Jilbab Bukan Sekedar Fashion, Inilah Penjelasanya

Jilbab Bukan Sekedar Fashion, Inilah Penjelasanya

islamedia-co-jilbabIslamedia.co – Banyak yang bertanya mengapa jilbab harus sesuai syariat, bukan sekedar Fashion, inilah Jawabanya.

1. Mengapa jilbab harus sesuai syari’at?
https://bestpaperwrirters.com https://bestpaperwrirters.com https://bestpaperwrirters.com
Karena jilbab adalah perintah Allah, dan seharusnyalah kita berjilbab karena Allah dan sesuai yang dituntunkan Rasulullah.

2. Mengapa jilbab harus sesuai syari at?
Karena jika tidak, kita cenderung mengikuti aturan nafsu kita sehingga jauh dari batasan-batasan syar’i

3. Mengapa jilbab harus sesuai syari at?
Karena jika tidak, dia tidak akan berfungsi sesuai yang Allah inginkan

4. Mengapa jilbab harus sesuai sesuai syariat?
Karena jika tidak, dia tidak akan memberikan manfaat bagi yang memakai maupun yang memandangnya

5. Mengapa jilbab harus sesuai syariat?
Karena jika tidak, maka bisa menjerumuskan si pemakai kejurang penyesalan yang sangat besar diakhirat yaitu neraka

6. Mengapa jilbab harus sesuai syariat?
Karena dia adalah syiar atau dakwah islam

7. Mengapa jilbab harus sesuai syariat?
Karena jilbab adalah identitas muslimah agar mudah dikenal

8. Mengapa jilbab harus sesuai syariat ?
Karena dengan sesuai syariat hati lebih tenang, lebih dekat kepada Allah

9. Mengapa jilbab harus sesuai syariat?
Karena dengan jilbab sesuai syariat lebih praktis dan mudah sholat di mana saja(ketika dlm shafar) karena aurat wanita ketika sholat = aurat wanita keluar rumah atau jika berada dilingkungan yang disitu ada lelaki non mahrom.

10. Mengapa jilbab harus sesuai syariat?
Karena dengan jilbab yang sesuai syariat maka lebih terlindung, nyaman dan sejuk, karena jika cara memakai jilbab bikin gerah harus dikoreksi mungkin terlalu kecil atau ketat?…

11. Mengapa jilbab harus sesuai syariat?
Karena jilbab bukan sekedar mode fashion atau inoveishion(inovasi veil fashion) tapi dia justru berfungsi menutupi keindahan/perhiasan wanita muslimah itu sendiri.

12. Mengapa jilbab harus sesuai syariat?
Karena dia cocok sepanjang zaman, sepanjang musim, fi kulli makan(dimanapun berada)

13.Mengapa jilbab harus sesuai syariat?
Masih banyak alasan lain yang bisa saudara saudariku seiman yang ingin sampaikan..

14. Lantas seperti apa jilbab yang sesuai syari at?
Ialah seperti dalam firman Allah QS Al Ahzab 59 :

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin:’Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. ‘yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Juga dalam firman Allah QS An Nuur 31:

…”Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,..”

Juga dalam hadits Rasulullah :

“Pada akhir ummatku nanti akan muncul para wanita yang berpakaian namun hakikatnya telanjang. Diatas kepala mereka terdapat sesuatu seperti punuk unta. Laknatlah mereka! Sesungguhnya mereka wanita-wanita terlaknat. Mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium aromanya, padahal aroma syurga itu dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian (HR Thabrani, dalam al-Mu’jamus Shaghiir(hlm.232), dari hadits ibnu ‘Amr, dengan sanad shahih). Khusus dalam hadits ini semoga kita kaum muslimah tidak termasuk didalamnya, berjilbab tapi telanjang naudubillahimindzalik.

15. Lantas bagaimana kriteria jilbab sesuai syari’at?

Yaitu jika dan hanya jika:
1. Menutup seluruh badan selain bagian yang dikecualikan(muka dan telapak tangan)
2. Tidak dijadikan perhiasan
3. Jilbab itu harus tebal tidak tipis
4. Jilbab harus longgar, tidak ketat
5. Tidak dibubuhi parfum atau minyak wangi
6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki
7. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir
8. Tidak berupa pakaian Syuhrah(sensasi) baik itu terlalu mewah karena mahal ataupun terlalu murahan yang dipakai untuk menunjukkan sikap zuhud dan dilakukan atas dasar riya’
16. Semoga kita semua termasuk muslimah ataupun kaum lelaki yang mempunyai tanggung jawab terhadap wanita muslimah (ayah, suami, kakak laki-laki, paman, kakek dll) yang bersegera memenuhi perintahNya “Sur’atul istijabah” terutama kewajiban berbusana muslimah sesuai syariat.

Wallahu a’lam bishawwab

Anindya Sugiyarto

Maraji’ :
1. Kriteria Busana Muslimah : Muhammad Nashiruddin Al Albani,
2. Notes “Aku Tak Rela Kau Kenakan Jilbab Tipis Itu” Anindya Sugiyarto
3. Majalah Ummi

 Sumber: www.islamedia.co
Perempuan dan Masa Depan Bangsa Indonesia

Perempuan dan Masa Depan Bangsa Indonesia

islamedia-co-ibu-anak-umahatIslamedia.co – Memperingati peringatan hari kartini sejatinya kita harus membahas ulang tentang judul buku yang beliau tulis “Dari https://thesamedayessay.com https://thesamedayessay.com https://thesamedayessay.com Gelap Terbitlah Terang” judul yang penuh makna tersebut konon diambil dari QS.Baqarah 256, dari kalimat minadzhulamaati ilannuur, Dia (Allah) mengeluarkan mereka (manusia) dari kegelapan menuju cahaya (iman). Sejauh ini belum ada tulisan yang mencoba mengaitkan secara khusus dan detail tema buku tersebut dengan Al Quran. Akan tetapi yang pasti, tulisan Kartini tentang nasib perempuan di negeri ini telah menjadikan kebangkitan perempuan tentang posisinya dalam kehidupan private dan public.Dengan demikian, apabila orientasi Kartini adalah QS Al Baqarah maka boleh jadi Kartini adalah sosok yang sangat religius. Ketidaksetujuan Kartini terhadap budaya yang menjadikan perempuan sebagai pelengkap kehidupan boleh jadi didorong oleh semangat Islam amar ma’ruf nahi mungkar.Terlepas itu semua, yang jelas Kartini telah berjasa menjadikan perempuan Indonesia memperoleh hak-haknya sebagai warga negara, tentu dapat dibayangkan apabila Kartini tidak menyerukan mungkin saja nasib perempuan Indonesia tidak seperti saat ini.Yang jelas, kebangkitan sejati perempuan, apabila menyadari harmonisasi perempuan atau ibu dengan asas kehidupan utama, yakni moralitas. Ibu dan moralitas adalah harmoni kehidupan yang apik, ibu adalah penyambung kehidupan, sementara moralitas adalah penyelamat kehidupan. Dan, pemilik kehidupan Tuhan Semesta Alam, akan selalu melihat bagaimana setiap insan berperilaku secara bijak terhadap ibu dan moralitas. Karenanya keduanya adalah jalan bebas hambatan menuju surga. Seperti dalam sebuah hadist, “Surga dibawah telapak kaki Ibu”.Kekuatan ibu dan moralitaslah yang telah juga melahirkan kebaikan, keberhasilan, ketangguhan kehidupan sebuah bangsa. Ingatlah bangsa yang besar sangat tergantung bagaimana ibu membesarkan anaknya, sehingga tepatlah ungkapan yang mengatakan : al-Mar’ah ‘imad al-Bilad. Idza shaluhat shulahat al-Bilad wa idza fasadat fasadat al-Bilad” (Perempuan itu tiangnya negara. Apabila ia baik, maka baiklah negaranya. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah negara Itu. Ungkapan tersebut merupakan poros utama kehidupan manusia yakni ibu dan moralitas. “Ibu adalah madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anaknya”. Sehingga, ibu sangat menentukan kemajuan bangsa.

Persoalan utamanya adalah kesenjangan dalam akses pendidikan untuk ibu dan perempuan. Banyak ibu-ibu yang pendidikannya rendah, oleh karena itu perannya dalam mendidik anaknya sejak dini sangatlah terbatas. Keterbatasan inilah yang menjadi keprihatinan kita dalam nasib perempuan di negeri ini.

Apatah lagi, bila kita ingin menegakkan idealisme Islam tentang perempuan tentu lebih berat lagi. Karena akan membutuhkan internalisasi keislaman yang massif. Dan internalisasi nilai-nilai Islam hanya dapat dilakukan manakala pendidikan memberikan ruang dan waktu yang tepat bagi kaum muslim untuk belajar dan tumbuh sesuai fithrah Islam. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan pendidikan negara-negara muslim termasuk Indonesia jangan sampai bertabrakan dengan fithrah Islam. Indonesia hanya akan maju bila menjadikan Islam sebagai inspirasi utama dalam setiap langkahnya. Ini yang perlu disadari, karena waktu telah menunjukkan bahwa memajukan Indonesia dengan jalan menihilkan Islam justru telah menunjukkan arah yang kontra produktif, misalnya ketika Orba menjalankan kebijakan asas tunggal Pancasila, yang terjadi adalah konflik terbuka atau terselubung antara Islam dan negara.

Demikian juga ketika Orla membuka hanya pada satu kelompok Islam sementara memusuhi kelompok Islam yang lain, juga berujung pada konflik. Untuk itu perlu disadari hubungan Islam dan negara, perlu memberikan ruang yang luas bagi Islam untuk menemukan jatidirinya. Tanpa perlu dicurigai sebagai usaha yang radikal, subversif, anti demokrasi dsb. Stigma-stigma yang memang telah tertanam lama dalam pola pandang sebagian elit di Indonesia terhadap Islam, khususnya terhadap Islam politik.

Untuk itu, para pendidik, para politisi, para birokrat perlu mengkaji ulang bagaimana pendidikan karakter dalam kebijakan pendidikan saat ini. Apakah politik pendidikan Indonesia, memberikan ruang yang luas atau terbatas bagi pendidikan Islam? Kalau memberikan ruang yang luas ternyata belum menunjukkan hasil yang maksimal, tentu perlu mengkaji apakah pelaksana pendidikan telah memiliki bekal yang cukup untuk memberikan pendidikan berkarakter? Karena bagaimanapun nilai Islam adalah ideal dan universal seperti yang telah dibuktikan di sebagian negara-negara Barat. Untuk itu, kesadaran bahwa Islam adalah solusi bagi Indonesia, perlu disosialisasikan sekaligus dibuktikan. Sehingga masyarakat merasa tenang dan tentram bersama Islam, bukan sebaliknya merasa takut dan tertekan. Untuk itu jalinan silaturahim elit Islam ke seluruh kelompok dan golongan adalah upaya kongkrit yang terus harus dilakukan agar Islam menjadi solusi di Indonesia.

Maka dari itu, tidak salah bila kita mengembalikan semangat Kartini, maka sejatinya kita membahas tentang arti penting Islam bagi Indonesia. Islam adalah berkah untuk Indonesia. Menganggap Islam bukanlah sesuatu yang utama di Indonesia adalah pandangan utopis dan tidak mengerti sejarah Indonesia.

Oleh karenanya, kearifan para pemimpin negeri ini untuk memuliakan perempuan sangat tergantung bagaimana sikap mereka terhadap perkembangan moralitas bangsa ini secara umum. Peran perempuan tidak harus dihitung bagaimana peran perempuan dalam sector public, berapa jumlah politisi perempuan di lembaga legislative? Berapa jumlah pejabat politik dan karir dalam pemerintahan ? Dan pertanyaan lain yang berkisar tentang kuantifikasi.

Memang peningkatan kuantitas perempuan dalam sector public adalah penting. Akan tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kebijakan yang ada, dapat meningkatkan kapasitas perempuan dalam meningkatkan kapasitas manusia Indonesia menjadi manusia yang sanggup bersaing dengan bangsa lain. Hal ini saya kira jauh lebih penting ketimbang membicarakan kuantitas peran perempuan di sector public.

Kita adalah bangsa besar yang membutuhkan manusia yang kokoh dan mandiri agar mampu bersaing pada abad-abad mendatang. Dengan kondisi saat ini, telah terjadi persaingan yang kuat antara negara, baik di tingkat regional atau internasional, sangat miris jika kita hanya menjadi pelengkap dalam silang dunia, meskipun secara geografis, posisi indonesia sangat strategis.

Kesadaran nasib bangsa kita ke depan, sangat ditentukan dengan cara pandang dan sikap kita pada kaum perempuan dan ibu yang menjadi pencetak generasi mendatang. Apabila ibu dan perempuannya lemah baik dari sisi moralitas, dan pendidikan maka masa depan bangsa ini akan suram. Namun sebaliknya bila ibu dan kaum perempuannya kokoh dan mandiri maka optimisme masa depan bangsa adalah sesuatu yang nyata.

Dengan demikian sudah saatnya, kita semua berpikir jernih agar perempuan mendapatkan hak-haknya secara penuh, sehingga mereka mampu melahirkan generasi muda Indonesia yang kuat di masa mendatang. Agar kita tidak menyesal di kemudian hari nanti. Wallahu’alam

Dra. Hj. Herlini Amran, MA
sumber: www.islamedia.co
Memulai Segalanya Dari Al-Quran

Memulai Segalanya Dari Al-Quran

Oleh : Syamil Azkiya

Al-Quran adalah sumber utama ajaran Islam. Pedoman dan rujukan untuk berbagai problematika kehidupan, serta tuntutan untuk meraih berbagai impian dan harapan. Al-Quran mencakup berbagai aspek kehidupan, tanpa ada yang tertinggal satu hal pun. Ia diturunkan dari Dzat yang Maha sempurna, untuk membimbing setiap hamba meraih ridha dan surga-Nya.

Sudah semestinya, kita memulai segala prihal kehidupan kita dari https://uk-essay-service.com https://uk-essay-service.com https://uk-essay-service.com Al-Quran. Al-Quran yang pertama, Al-Quran yang utama. Menjadikannya sebagai perhatian utama sebelum yang lainnya. Saat interaksi dengan Al-Quran sudah baik dan benar — dengan berbagai bentuknya –, insya Allah hal-hal lain pun akan baik juga.

Dari Al-Quran kita harus memulai. Seperti halnya para generasi terbaik dahulu mereka memulainya dari Al-Quran. Tengoklah bagaimana perjalanan akademik para ulama panutan ummat dalam menuntut ilmu. Tegukan yang pertama kali mereka minum adalah tegukan dari telaga Al-Quran. Di usia mereka yang masih dini, Al-Quran lah yang pertama kali dipelajari. Al-Quran lah yang pertama kali mengisi sendi-sendi dan urat nadi, sehingga mendarah daging dalam tubuh yang tunduk pada ilahi. Mereka mempelajari Al-Quran, mentadabburi, dan menghafalkannya sejak dini. Setelah itu, baru melangkah pada ilmu atau bab-bab lain yang menjadi kebutuhan dalam kehidupan.

Ironis sekali, jika kita mendamba generasi Rabbani yang senantiasa mengamalkan nilai-nilai qurani, tapi sajian awal yang kita hadirkan untuk mereka adalah “tegukan-tegukan” minuman lain yang tidak asasi. Hal itu dapat terlihat dari realita yang ada, disadari atau tidak, kita masih memposisikan Al-Quran sebagai pelengkap kegiatan anak-anak dan keluarga kita. Buktinya, kita belum begitu serius memperhatikan bagaimana agar anak dan keluarga kita bisa interaksi bersama Al-Quran dengan baik dan benar, minimal dalam cara membacanya, syukur-syukur sampai tataran pengamalannya.

Oleh karena itu, dalam posisi sebagai apapun kita berada, kita dapat memulai mengajak orang-orang di sekitar kita untuk menjadikan Al-Quran sebagai awal dari segalanya. Untuk urusan politik, sosial, ekonomi, pendidikan, maupun hal-hal yang lainnya. Dengan demikian, seluruh aktifitas dan karya-karya kita akan tumbuh dan berasal dari ruh dan semangat yang sudah terwarnai oleh nilai-nilai qurani.

Sungguh berbahagialah orang-orang yang berusaha menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dan petunjuk dalam mengarungi kehidupan, hingga ia mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan dari Allah Swt.

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2] : 02)

 

 

 

 

Mempertahankan Keimanan Di Tengah Ujian

Mempertahankan Keimanan Di Tengah Ujian

Oleh : Syamil Azkiya

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut [29] : 02)

Orang yang beriman dengan sebenar-benar keimanan akan mendapatkan berbagai pahala, keutamaan dan kemuliaan di sisi Allah Swt. Hal demikian sebagai balasan atas kesungguhan dan keistiqomahan dalam melaksanakan berbagai ketaatan https://assignmentdone4you.com https://assignmentdone4you.com https://assignmentdone4you.com kepada-Nya. Baik di kala suka maupun duka, saat indah maupun gelisah. Tak ada beda antara keduanya. Tak ada yang membuat mereka gentar untuk beramal.

Menjalankan ketaatan (ibadah) memerlukan kesabaran. Setiap jenis ibadah dan amaliah hasanah memiliki ujian dan tantangan. Berat untuk berbuat, lelah untuk melangkah, dan malas bergegas merupakan tantangan-tantangan kebaikan yang seringkali menghampiri.

Bila memperhatikan ayat di atas, setiap orang beriman sejatinya ia akan senantiasa diuji oleh Allah Swt. dengan ujian-ujian yang dikehendaki-Nya. Tentu ujian yang sesuai dengan kadar kemampuan hamba-Nya. Dengan ujian tersebut, sekaligus akan tersaring mana orang-orang yang memegang teguh keimanannya dan mana orang-orang yang dengan mudah melepaskannya begitu saja.

Kisah-kisah generasi terdahulu dapat menjadi pelajaran bagi kita, bagaimana mereka mempertahankan keimanan di tengah-tengah ujian keimanan. Ashabul Ukhdud, misalnya. Mereka dihadapkan pada ancaman penguasa untuk menanggalkan keimanan kepada Allah Swt atau selamat dari ancaman kematian. Mereka lebih memilih teguh dalam keimanan walaupun kobaran api menyala harus mengakhiri jiwa dan raga. Semua itu lahir dari keyakinan yang mendalam, bahwa apa yang ada di sisi Allah Swt. lebih baik dari dunia dan segala isinya.

“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 03)

Ragam Ujian

Ujian keimanan tak melulu sesuatu yang menakutkan, menegangkan, atau membuat hidup terasa tak aman. Ujian keimanan bisa hadir dalam bentuk kelapangan, kenyamanan, kemudahan, dan kemelimpahan yang melenakkan kehidupan. Harta, tahta, dan wanita seringkali menjadi pintu malapetaka ketika tidak diposisikan sesuai keharusan. Diri kita sering alfa, bahwa semua itu juga merupakan ujian yang bisa merontokkan keimanan.

Harta yang tidak digunakan dalam ragam kebaikan, jabatan yang disalahgunakan, atau kenyamanan keluarga yang membuat jiwa semakin lemah dalam menghamba (ibadah), merupakan sikap yang mencerminkan tidak lulus ujian keimanan dalam bentuk kelapangan dan kenyamanan.

Untuk evaluasi, dengan mudah kita bisa mengoreksi diri. Apakah kemelimpahan dan kenyamanan yang ada membuat kita semakin bertaqwa atau tidak? Misalnya, tetap istiqamah dalam tilawah, konsisten shalat berjama’ah, dan berbagai amaliah hasanah lainnya.

Sebagai orang beriman, kita harus senantiasa hati-hati, mawas diri dan terus taqarrub kepada ilahi, agar Ia memberikan kita kekokohkan iman, walaupun berbagai ujian datang silih berganti. Maka berbahagialah orang-orang yang Allah Swt. berikan taufiq dan hidayah untuk tetap melaksanakan berbagai kebaikan di tengah-tengah berbagai ujian keimanan.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Buruj [85] : 11)

Kemerdekaan yang hakiki

Kemerdekaan yang hakiki

benderaOleh: Adam Cholil (Pengajar di HSG Khoiru Ummah Gresik)

 Bulan ini bangsa Indonesia kembali memperingati hari kemerdekaannya yang ke https://getyouressay.com https://getyouressay.com https://getyouressay.com 64. Kesemarakan menyambut hari bersejarah itu sudah nampak dari jauh-jauh hari. Spanduk, lampu hias, bendera, sampai baliho-baliho besar bertuliskan ucapan “Dirgahayu Kemerdekaan” menghiasi jalan-jalan raya. Iklan-iklan ucapan selamat hari kemerdekaan dan acara spesial kemerdekaan dimedia massa pun bertebaran menambah gegap gempita menyambut hari bersejarah itu.

Namun dibalik kesemarakan itu masih terselip pertanyaan dibenak kita; benarkah kita sudah merdeka? Pasalnya kita banyak melihat disana-sini fenomena yang menunjukkan hal sebaliknya. Dalam aspek ekonomi, sosial, politik, hukum, maupun budaya kita banyak mendapatkan kenyataan bahwa masyarakat kita masih jauh dari kemerdekaan. Begitu juga dengan perilaku individunya, banyak yang masih membebek kepada kehidupan yang tidak sesuai dengan akhlak Islam. Padahal Indonesia adalah negri Muslim terbesar di dunia. Dan The Pounding Father kita mengakui dengan jujur dalam mukaddimah undang-undang dasar 1945, bahwa kemerdekaan ini diraih atas berkat rahmat Allah swt. Artinya dalam mengisi kemerdekaan ini hendaknya kita tidak boleh melupakan Tuhan yang telah memberi kita nikmat kemerdekaan ini.

Kemerdekaan yang Menyeluruh

Suatu Negara bisa dikatakan merdeka secara hakiki apabila kemerdekaan tersebut terjadi secara menyeluruh dalam semua pilar-pilarnya. Kemerdekaan tersebut bukan hanya dalam konteks Negara semata tetapi juga individu dan masyarakat yang menjadi pengisi sebuah Negara. Dalam konteks individu kemerdekaan berarti terbebasnya seseorang dari tekanan hawa nafsunya dalam melakukan segala aktifitasnya. Menurut DR. Ing. Fahmi Amhar (Arti Kemerdekaan Hakiki dalam Perspektif Islam,  2001), individu yang merdeka ialah seorang yang ketika ia bersikap dan berperilaku akan selalu di dasarkan kepada pertimbangan rasional. Dan bagi orang yang beriman pertimbangan rasionalnya adalah ketika ia menyandarkan segala perbuatannya kepada aturan Allah swt.  Imam Ali ra.  mengibaratkan hal tersebut dalam satu ungkapan; ”Seorang budak beramal karena takut hukuman, pedagang beramal karena menginginkan keuntungan, dan orang merdeka beramal karena mengharap keridhaan dari Allah swt.”

Maka jika ada seorang manusia dalam kehidupannya senantiasa dikendalikan hawa nafsu maka berarti dia belum menjadi orang merdeka yang sebenarnya. Meskipun ia bukan seorang budak dan hidup di sebuah masyarakat dan Negara merdeka. Karena ia terbelenggu oleh hawa nafsunya yang senantia memaksanya untuk melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan akal sehatnya. Kehidupannya selalu terjajah oleh hawa nafsunya sendiri sehingga mengakibatkan terjerumusnya ia kejurang kebinasaan baik di dunia maupun di akhirat. Allah swt. berfirman:

79:37
79:38
79:39

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Naazi’aat:37-39).

Dalam Tafsir Fathul Qadir Imam As-Syaukani mengatakan; orang yang melampaui batas adalah yang melampaui batas dalam kekufuran dan maksiat kepada Allah. Lebih mendahulukan dunia ketimbang akhirat. Sedangkan Imam Al-Baidhawi menyatakan, maksud ayat di atas adalah; adapun orang yang melampaui batas hingga dia kufur serta memilih kehidupan dunia dan tidak mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat dan membersihkan diri dari hawa nafsu maka tempat kembalinya adalah neraka.

Sedangkan dalam konteks masyarakat, kemerdekaan adalah ketika mereka tidak lagi menjadi pengekor pola pikir, budaya dan bahkan agama para penjajah. Masyarkat yang merdeka memiliki pola pikir, budaya dan agama yang khas yang membedakan mereka dari masyarakat lain (Fahmi Amhar, 2001). Kita bisa menjadikan masyarakat Madinah sebagai contoh masyarakat yang merdeka secara hakiki. Setelah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, beliau mulai menata masyarakat di sana dengan kehidupan yang Islami yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Semula persatuan masyarakat dibangun di atas landasan kesukuan yang sangat rapuh dan sering memunculkan pertikaian di sana-sini, maka kemudian dirubah menjadi berlandaskan agama yang kokoh dan memunculkan ketentraman dan kedamaian. Budaya yang semula mengikuti budaya jahiliyah warisan nenek moyang yang dipenuhi takhayyul dan khurafat diganti menjadi budaya yang Islami yang rasional dan bernilai luhur.

Adakah masyarakat kita saat ini memiliki pola pikir dan budaya yang terlepas dari pola pikir dan budaya para penjajah? Jawabannya bisa kita dapatkan di sekeliling kita. Mulai dari cara berbusana, makan, bergaul, bertetangga dan lainnya masyarakat kita sangat jauh dari ciri khas masyarakat Islam. Walaupun busana yang dipakai oleh masyarkat kita hasil rancangan para desainer  dalam negri, kain yang digunakannya adalah batik buatan dalam negri tetapi modenya jelas mengikuti tren mode dunia yang dikendalikan Negara-negara penjajah. Pergaulan yang membudaya di tengah masyarakat kita tidak bebas dari tren pergaulan dunia. Mulai dari anak remajanya sampai kepada orang dewasa. Semua merasa malu jika tidak mengikuti gaya hidup kaum penjajah yang dikemas dengan rapi dan menarik. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang berada di bawah kendali para penjajah. Akhlak mereka tengah dihancurkan secara sistematis.

Ternyata kita baru terlepas dari belenggu penjajahan secara fisik saja. Sementara pola kehidupan masyarakat kita tidak berbeda dengan kondisi saat dijajah. Maka tidak heran walapun negri ini sudah 63 tahun lepas dari cengkeraman penjajah tetapi tidak pernah mengalami kebangkitan yang ada malah kebangkrutan. Mengapa ini terjadi? Karena racun yang ditinggalkan oleh para penjajah terus kita minum setiap hari. Bahkan kita telah ketagihan meminum racun tersebut. Sehingga kalau habis maka kita pun merengek-rengek minta diracun lagi. Racun itu bernama pemikiran dan budaya para penjajah. Kebebasan berekspresi, pornografi dan pornoaksi, pergaulan bebas, sikap individualistik, hedonisme, dugem, dan sejenisnya adalah sederet pemikiran penjajah yang masih membudaya dan bahkan seperti telah menjadi ciri khas masyarakat kita. Padahal masyarakat kita adalah masyarakat religius, memiliki budaya yang luhur yang berlandaskan kepada agamanya yaitu Islam. Tetapi semua itu digerus oleh badai budaya asing penjajah sehingga kita tidak lagi memiliki identitas yang unik sebagai sebuah masyarakat yang berlandaskan agama.

Sedangkan Negara yang merdeka adalah yang terbebas dari penjajahan baik secara fisik, politik, ekonomi juga budaya. Negara tersebut bebas menerapkan aturannya dalam melindungi rakyatnya. Tidak lagi ada tekanan dari Negara yang pernah menjajahnya atau lainnya. Dan bagi umat Islam tentu saja Negara tersebut haruslah sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah saw.  yaitu sebuah Negara yang menerapkan aturan Allah dalam berbagai kebijakannya. Karena umat Islam yakin hanya dengan menjalankan aturan Allah saja-lah mereka akan menjadi umat yang maju yang tidak akan bisa dijajah oleh Negara mana pun. Hal tersebut telah dibuktikan oleh kaum Muslimin dimasa lalu.   Inilah kemajuan dan kebangkitan umat yang dijanjikan Allah di dalamAl-Qur’an:

24:55

…dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur:55)

Ibnu Katsir mengatakan; ayat ini adalah janji dari Allah kepada Rasulullah saw. bahwa Dia akan menjadikan umatnya sebagai penguasa di muka bumi. Yakni umat Islam akan menjadi pemimpin atas bangsa-bangsa lain. Saat itulah seluruh negri  akan mendapatkan kesejahteraan dan semua manusia tunduk kepada mereka. Tidak ada lagi ketakutan seperti yang selama ini menerpa kaum Muslimin.

Namun semua itu akan terjadi jika kaum Muslimin benar-benar memegang teguh keimanannya dan mengamalkan agamanya secara konsekuen dalam seluruh kehidupannya. Wallahu a’lam bishshawab.

sumber: http://www.eramuslim.com/berita/analisa/kemerdekaan-yang-hakiki.htm#.U_EstGPYD40