Pembelajaran Narrative Text, Lebih seru dengan Pementasan Drama

Oleh: Muhammad Dwi Wijayanto

SMAIT As-Syifa memiliki program yang secara rutin dilaksanakan yaitu Muhadhoroh atau bisa disebut juga Language Festival. Dalam kegiatan ini siswa dapat berpartisipasi dalam berbagai lomba kebahasaan. Salah satu lomba yang dipertandingkan adalah drama, termasuk drama berbahasa Inggris. Drama ini melibatkan tokoh-tokoh khayalan  dan sebagaimana isi cerita drama pada umumnya, dalam drama ini juga terdapat unsur orientasi, komplikasi dan resolusi.

Drama, lebih tepatnya skenario drama, ditinjau dari genre tulisan termasuk kedalam Narrative Text. Yang menjadi ciri khas dari jenis teks ini adalah adanya penokohan, setting, dan alur cerita yang mencapai klimaks. Dalam pengajaran konvensional di ruang kelas, biasanya guru terlebih dahulu menjelaskan secara teoritis teks yang dimaksud, termasuk penjelasan tentang pengertian, fungsi sosial, struktur, dan ciri kebahasaan. Setelah itu, guru memberikan contoh teks naratif untuk dibaca dan dipahami oleh siswa. Penyampaian materi seperti ini sering terkendala dengan kurangnya minat baca siswa dan minimnya kosakata yang mereka miliki. Dengan gaya pembelajaran seperti ini, teks naratif menjadi materi yang kurang menarik dan perlu waktu yang relatif lama untuk memahami isi teks.

Bercermin dari kegiatan pementasan drama lalu, siswa begitu antusias untuk  mementaskan drama berbahasa Inggris. Para peserta kemudian mempelajari dan memahami skenario tersebut secara mandiri tanpa bimbingan intens dari guru bahasa Inggris. Dari hasil pengamatan juri, pemahaman peserta terhadap isi teks hampir mencapai 90%. Ini terlihat dari penampilan mereka di panggung, dimana alur, penokohan, setting, serta isi cerita dapat tersampaikan dan dipahami jelas oleh penonton. Ada fenomena menarik yang kita lihat disini. Mengapa siswa relatif lebih cepat dan lebih bersemangat memahami teks naratif yang dipentaskan (drama), daripada sekedar teks naratif yang dibaca disertai pertanyaan-pertanyaan untuk mengevaluasi pemahaman mereka?

Jika kita teliti lebih jauh karakter siswa yang sedang menginjak masa remaja, bahwa mereka sedang dalam masa ‘ingin eksis’ dan ‘diakui’ oleh komunitasnya, pementasan drama menjadi ajang yang tepat bagi mereka untuk tampil dan menunjukkan bakat serta kemampuannya. Kondisi psikologis seperti ini telah mendongkrak motivasi siswa sedemikian rupa sehingga tanpa mereka sadari, mereka telah ‘belajar sungguh-sungguh’ memahami sebuah naratif teks.

Hal lainnya adalah bahwa pementasan drama melibatkan banyak aspek: intelektual, emosi, imajinasi, dan gerak tubuh termasuk ekspresi dan penampilan. Pelibatan aspek-sepek tersebut membantu siswa dalam mempercepat pemahaman teks. Misalnya saja siswa yang memiliki kecerdasan kinestetis (gerak) menjadi lebih cepat memahami isi dialog karena drama menuntut pemain untuk melakukan olah tubuh. Begitu pun siswa yang memiliki kecerdasan spasial (ruang), ia dapat berimajinasi untuk mendisain setting setiap adegan. Jika kita tarik benang merahnya, pementasan drama telah mengakomodir kecerdasan masing-masing siswa. Alasan terakhir yang tidak bisa diabaikan tentunya adalah reward untuk para pemenang berupa hadiah, walaupun nominalnya tak seberapa, dan piagam penghargaaan. Sebagaimana kita ketahui bersama reward dan punishment adalah salah satu metode pendidikan yang cukup efektif. Dengan demikian reward berupa hadiah (benda, kenang-kenangan, dll.) menjadi motivasi tersendiri bagi para siswa.

Kendala yang mungkin akan kita hadapai adalah waktu dan hal teknis. Pementasan drama idealnya memang dilakukan di atas panggung, disaksikan oleh banyak penonton dan perlu waktu khusus. Jika hal ini sulit dilakukan terkait kendala teknis atau tak sebandingnya jumlah jam pelajaran bahasa Inggris dengan materi yang harus disampaikan, pementasan secara sederhana atau bermain peran di dalam ruangan kelas juga bisa menjadi alternatif. Guru memang dituntut untuk selalu berinovasi dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar, agar pembelajaran bahasa Inggris yang tidak sedikit murid menganggap pelajaran ini sulit, menjadi lebih fun dan penuh kejutan di setiap materi yang dipelajari.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *