Oleh : Ustadz. Burhanuddin Muttaqien, S.Si.
Guru Kimia SMAIT As-Syifa Boarding School
Banyak yang masih punya trauma dengan mapel kimia? Ayo ngakuu! Sebagian orang beranggapan kimia itu horor yang cuma isi rumusnya deretan angka dan huruf latin njlimet? Buat para santri boarding —baik yang masih betah di pondok maupun yang suka kabur-kaburan, eh bukan maksudnya baik yang masih santri maupun sudah jadi alumni—kimia itu sebenarnya bukan barang baru. Tanpa sadar, cobaan dan kreativitas hidup di pesantren sehari-hari itu isinya aplikasi kimia banget.
Nggak percaya? Coba, siapa yang pas di asrama pernah masak mie atau ngangetin makanan pakai kompor spiritus kaleng soda bekas bantara? Cuma berbekal kaleng soda bekas yang dipotong, dibolongin pinggirnya pakai paku kecil, lalu diisi spiritus dan dinyalakan pakai korek —simsalabim! Kompor mini siap dipakai menyeduh kopi atau masak mie instan di dalam kamar. Di balik aksi sembunyi-sembunyi dari musyrif dan abang panitia, ada reaksi kimia bernama pembakaran sempurna senyawa alkohol.

Spiritus sebagian besar mengandung etanol atau Methanol () yang diberi zat warna biru. Ketika dibakar dengan oksigen di atmosfer kamar, hasilnya adalah api biru yang bersih tanpa jelaga hitam berlebih:

Alhamdulillah, perut kenyang, walaupun akhirnya ketahuan dan dipanggil ke kantor kepala pembinaan. Semoga ga kejadian lagi ya, harapannya semua santri bisa makan di dapur pada waktu yang disediakan untuk makan.
Hal lain yang juga kimia banget terkait “penyakit kebangsaan” anak pondok: kudis, kurap, gatal-gatal, atau yang populer dengan sebutan scabies. Entah karena baju ketuker di jemuran atau pakai seragam hasil beli darurat ke kantor asrama atau bisa jadi sarung dipinjam berjamaah atau bisa jadi dari sepatu atau sandal antah berantah yang jadi barang milik bersama kayak O2 di udara. Nah, kalau penyakit ini melanda, biasanya pakai scabimite atau obat salep gatal, namun solusi paling legendaris adalah: Rendam tangan atau kaki di air PK!

Cairan yang tadinya bening, begitu ditaburi bubuk PK langsung berubah warna jadi ungu pekat ala magic potion. Di dunia kimia, PK itu singkatan dari Permanganat Kalicus alias Kalium Permanganat (). Benda ini adalah agen oksidator kuat. Maksudnya gimana? Pas dilarutkan dalam air, dia bakal melepaskan oksigen yang secara efektif merusak dinding sel bakteri dan jamur penyebab gatal di kulit kita. Jadi, pas kamu merendam kaki sambil meringis-ringis karena rasanya agak perih dan bikin kulit berubah warna jadi agak kecokelatan, di saat itulah terjadi reaktan kimia yang sedang membasmi mikroorganisme jahat!

Guys, sebenernya dua contoh tadi cuma sebagian kecil aplikasi kimia di lingkungan anak boarding yang unik, karena mereka punya kehidupan menantang. Lebih luas dari itu sebagai manusia, kimia kita jumpai di semua bagian kehidupan kita lho! Coba tengok ember cucian & deterjen, kenapa sabun bisa membersihkan noda minyak di baju kita? Karena molekul sabun punya dua ujung: ujung hidrofilik (suka air) dan hidrofobik (suka minyak). Dia menggandeng minyak di baju, lalu mengajak minyak itu hanyut ikut air bilasan. Begitu juga dengan sabun mandi, pasta gigi, shampo, dan macam-macam pembersih lain.
Bahkan dalam diri kita sendiri, saat ini banget. Setiap sel tunggal diperkirakan menjalankan sekitar 1 miliar (109) reaksi kimia per detik. Subhanallah. Tinggal dikali aja sama jumlah sel di tubuh manusia yang berkisar di 37 triliun sel. Allohuakbar walillahilhamd.

The last but not the least. Tahu nggak sih siapakah Bapak Ilmu Kimia Modern? Beliau adalah Jabir ibn Hayyan (di Barat dikenal dengan nama Geber). Jabir hidup di masa kejayaan Islam pada abad ke-8 Masehi. Ditinjau dari gaya hidupnya, Jabir ibn Hayyan itu seorang santri sejati! Beliau adalah murid langsung dari Imam Ja’far ash-Shadiq. Beliau belajar ilmu agama, Al-Qur’an, fikih, sekaligus tekun mengkaji alam semesta. Bahkan, metode saintifik, proses distilasi (penyulingan), kristalisasi, sublimasi, hingga penemuan asam sulfat dan asam nitrat yang jadi fondasi kimia modern hari ini, lahir dari tangan dingin seorang pembelajar yang berpenampilan sederhana, tawadu’, dan tekun beribadah layaknya santri.
So… Kimia bukan cuma soal hafalan rumus, tapi soal bagaimana kita memahami Sunnatullah pada tiap materi yang ada di sekitar kita. Terus semangat mengaji dan menuntut ilmu!
Leave a Comment